KONSEP PENDIDIKAN YB. MANGUNWIJAYA. Pr.

By : Aly Masyhar Abdel Hanan

A. Pendahuluan

Berbicara pendidikan di negeri ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Ada banyak hal yang masih membutuhkan pembenahan di dalamnya. Mulai dari sisi birokrasi, menejemen, sistem kontrol, hingga sisi internalnya, yakni mengenai konsep pendidikan dan aplikasi praksis dalam menciptakan pendidikan yang tepat dengan kondisi dan kultur bangsa. Dengan problem ini, maka berakibat pada ketidakmampuan pendidikan di Negeri ini dalam mencetak generasi-generasi bangsa yang cerdas, baik cerdas dalam segi intelektualitas, kepribadian maupun cerdas dalam segi sosialnya[1]. Impian anak bangsa ingin manjadi manusia cerdas hanya tinggal impian belaka. Semua sirna karena terombang-ambingkan oleh ketidakjelasan sistem pendidikan yang terlalu mengambang dari masa ke masa, dan dari pemerintahan yang satu ke pemerintahan yang selanjutnya[2].

Dalam konsep pendidikan, Problematika yang sangat menonjol dewasa ini ialah terkait kurikulum dan implementasinya. Hal ini terjadi mulai dari digulirkannya kurikulum 1975, 1984, hingga yang baru-baru ini dimunculkan, yakni KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Jika direfleksi, Perubahan-perubahan bentuk kurikulum inipun dengan sendirinya sudah menunjukkan pada begitu sangat carut-marutnya dunia pendidikan di negeri kita dewasa ini[3].

Problematika kurikulum nasional antara lain sebagaimana yang dinyatakan oleh Musa Ahmad dalam buku Pendidikan Alternatif Qoryah Toyyibah karya Bahruddin. Di situ ia menyatakan bahwa problem mendasar dari Kurikulum Nasional ialah adanya unsur pemangkasan atas kreatifitas siswa dan pencerabutan siswa dari akar sosialnya. Sebab, menurutnya, selain didalamnya terdapat standarisasi keilmuan dan materi kurikulum yang terlalu padat[4], kurikulum nasional juga tidak menghadapkan anak didik dengan realitas kehidupan dirinya dan lingkungannya secara langsung dan kontinyu[5]. Dengan ini maka akan membuat anak didik seakan lepas dan buta dengan realitas lingkungan yang sedang dihadapinya. Kemudian problem kurikulum nasional lainnya ialah cara penyampaian yang digunakan. Selama ini cara penyampaian yang digunakan ialah lebih menekankan pada proses Pengajaran dari pada proses Belajar. Maka yang terjadi ialah bukan proses mencerdaskan anak didik, melainkan sebaliknya, yaitu membuat anak didik menjadi bodoh dan patuh buta. Hal inilah yang disebut oleh pemikir pendidikan dari Brazil, Paulo Friere, dengan sebutan banking sistem, yakni sebuah proses Transfer of knowlage yang dilakukan secara copy-paste dari seorang Guru kepada muridnya. Dalam proses pembelajaran ini yang ada ialah murid hanya digurui, diajari, dan dijejali dengan mata pelajaran yang sudah didesain dan ditentukan oleh guru, lembaga atau Negara sebelumnya. Dan dalam kenyataannya, sebagian besar mata pelajaran yang diberikan tersebut berbeda dengan kebutuhan anak dan komunitasnya[6].

B. Biografi YB. Mangunwijaya. Pr.

Nama Lengkap Romo mangun adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Dua huruf, Y.B., di depan nama Mangunwijaya merupakan gabungan nama baptis Yusuf, dan nama kecil Romo mangun, yakni Bilyarta. Kemudian tambahan huruf Pr., adalah sebutan untuk imam diosesan atau romo projo[7].

Kemudian, dari pernikahan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dengan Serafin Kamdinijah yang juga berprofesi sebagai guru Sekolah rakyat , melahirkan Romo mangun pada 6 Mei 1929 M. di Ambarawa, Jawa Tengah. Romo mangun, sebutan akrabnya, ialah anak sulung dengan sebelas adik, tujuh diantaranya perempuan. Dari keluarga besar tersebut, hanya Romo Mangun yang menjadi seorang biarawan[8].

Dalam riwayat pendidikan, pada tahun 1936, Pastor yang pada periode Orde baru dijuluki komunis berjubah rohaniawan itu[9] memulai memasuki sekolah di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan Magelang. Kemudian setelah tamat, tahun 1943, ia meneruskan studinya ke STM Jetis Yogyakarta. Ketika di STM ini, ia mengikuti kingrohosi yang diadakan tentara Jepang di lapangan Balapan Yogyakarta dan mulai tertarik mempelajari sejarah dunia dan filsafat. Kemudian, setelah satu tahun STM Jetis dibubarkan pada tahun 1944, dan gedungnya dijadikan markas perjuangan tentara RI, Romo Mangun muda mendaftarkan diri menjadi prajurit TKR Batalyon X divisi III dan bertugas di asrama militer di Benteng Vrederburg, lalu di asrama militer di Kota Baru Yogyakarta. Pada tahun ini, ia ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan di Marnggen. Ketika sekolah STM Jetis dibuka kembali, tahun 1946, ia melanjutkan sekolahnya lagi hingga lulus tahun 1947. Ketika masih sekolah di STM Jetis yang kedua ini, karena semangatnya untuk berjuang tetap tinggi, ia menggabungkan diri dalam Tentara Pelajar dan ia sempat pernah bertugas menjadi sopir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk memeriksa pasukan[10].

Setelah lulus dari STM Jetis, yakni tahun 1947, dan pada saat agresi militer Belanda I, ia tergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan kompi TP Kompi Kedu. Dan setahun kemudian ia melanjutkan belajarnya di SMU-B Santo Albertus Malang dan lulus pada tahun 1951. ketika di Albertus, tepatnya pada tahun 1950, ia mewakili pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. Di sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi masa depannya[11].

Pilihan hidup menjadi Pastor membuat Romo Mangun melanjutkan sekolah di seminari[12]. Pertama masuk ke Seminari Menengah di Kotabaru, 1951, kemudian pada tahun 1952 ia pindah ke Seminari Menengah Petrus Kanisius, Martoyudan Magelang. Setelah lulus tahun 1953, ia melanjutkan studinya ke Seminari Tinggi, sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Uskup Soegijapranata, SJ[13].

Ketika di Seminari, teman-temannya mengenal Romo Mangun sebagai seorang yang kreatif dan piawai dalam menulis. Terkait bakat sastranya, memang sudah berkembang sejak di Sekolah Dasar ketika Mangun Muda dididik untuk mampu terampil berbicara di depan umum dan menulis gagasan yang runtut dan argumentatif. Jalur sastra dan karya tulis kemudian dipakai Romo Mangun sebagai alat dan wujud perjuangan kemanusiannya. Menurut Utomo, salah satu yang menyuburkan bakat kepengarangan Romo Mangun adalah latihan berbicara di depan kelas dan membuat karangan yang pada waktu itu disebut opsel[14].

Pada tahun 1959, Romo Mangun melanjutkan pendidikannya di Teknik Arsitektur ITB dan tepat pada 8 September, ia ditahbiskan oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Soegijapranata menjadi Imam. Setelah mengenyam pendidikan di ITB, 1960, ia melanjutkan studi arsitekturnya di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule di Aachen Jerman dan lulus pada tahun 1966. ketika di luar negeri, yaitu pada tahun 1963, ia sempat menemani saat Uskup Soegijapranata meninggal dunia di biara suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi di Harleen, Belanda.

Setelah kembali ke Indonesia, ia menjadi Pastor Paroki di Gereja Santa Theresia, Desa Salam Magelang. Kemudian, pada tahun antara 1967 sampai 1980, selain ia menjadi seorang Pastor dan Dosen Luar Bisaa jurusan Arsitektur di UGM, ia juga mulai berhubungan dengan para pemuka agama lain, seperti Gus Dur dan Ibu Gedong Bagoes Oka. Dan pada tahun-tahun inilah Romo Mangun mulai menulis artikel untuk koran Indonesia Raya dan kompas, tulisan-tulisannya kebanyakan bertema: agama, kebudayaan, dan teknologi. Juga menulis cerpen dan novel. Dengan penulisan cerpen, pada tahun 1975 ia memenangkan Piala Kincir Emas dari radio Nederland.

Setelah selesai mengikuti kuliah singkat tentang masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Apsen Institute for Humanistic Studies di Aspen Colorado AS karena dorongan dari Dr. Soedjatmoko, ia melakukan pendampingan pada warga Kali Code yang terancam penggusuran. Untuk menolak penggusuran ini, ia melakukan protes mogok makan. Pendampingan ini berlangsung mulai tahun 1980 hingga tahun 1986. karena pengupayaan dan pembuatan perumahan untuk warga Kali Code, pada tahun 1992, ia mendapat The Aga Khan Award[15]. Kemudian, pada tahun 1986 sampai 1994, ia melakukan pendampingan lagi, yakni pada warga Kedung Ombo yang menjadi korban pembuatan waduk dan mendirikan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar (DED) dan menerapkan atau mengoprasikan eksperimennya di SD Kanisius Mangunan (SDKM) yang bertempat di Dusun Mangunan, Desa Kalitirto, Kec. Berbah, Kabupaten Sleman, sekitar 12 kilometer di sisi timur Yogyakarta[16]. Tujuan Romo Mangun mendirikan DED dan SDKM ialah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak miskin. Sebab, menurut Romo Mangun, selain Pendidikan Nasional tidak memberikan kesempatan pada mereka, Kurikulum yang diberikanpun tidak sesuai dengan keadaan dan kehidupan anak-anak miskin.

Pada tahun 1998, tepatnya pda tanggal 26 Mei, ia menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses Gatutkaca di yogyakarta. Dan setahun kemudian, tepat pada tanggal 10 Februari 1999, setelah memberikan ceramah dalam seminar yang bertema “meningkatkan peran buku dalam upaya membentuk masyarakat Indonesia baru” di hotel Le Maridian Jakarta, Romo Mangun meninggal dunia karena serangan jantung. Peristiwa ini mengingatkan dan sekaligus menjawab harapannya seperti yang diungkapkan Romo Muji Sutrisno, “Beliau selalu meminta kepada Tuhan, ingin meninggal dalam tugas”. Romo Mangun meninggal ketika menunaikan tugas mulia  sebagai Guru Bangsa, mempersiapkan pemikir-pemikir cerdas untuk membangun masyarakat baru Indonesia. Mohamad Sobary yang melepas kepergian Romo Mangun dalam pelukannya mengatakan, “Romo Mangun adalah seorang Indonesia baru karena yang dibayangkannya adalah masa depan dan pemikirannya mendahului zaman sekarang.  Sekalipun telah meninggal, dalam wasiatnya Romo Mangun tetap menginginkan agar tubuhnya masih bermanfaat untuk proyek kemanusiaan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Faruk HT, ” Romo Mangun berwasiat agar jasadnya diserahkan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada untuk dimanfaatkan bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan”. Namun wasiat yang terakhir ini oleh sahabat-sahabatnya tidak dikabulkan juga karena pertimbangan kemanusiaan[17].

C. Pemikiran-pemikiran Pendidikannya

BAB III

KONSEP PENDIDIKAN

HUMANISTIK YB. MANGUNWIJAYA, Pr.

A. Filsafat Manusia

Menurut Romo Mangun, manusia adalah makhluk yang berakal budi, animal rationale. Dalam arti, manusia mampu berpikir, menentukan pilihan, dan mengambil tindakan berdasarkan pilihannya atau lebih mudahnya makhluk merdeka. Dengan pengertian ini maka manusia mempunyai tanggung jawab atas apa yang dipilih dan diperbuatnya. Keterangan ini bisa ditemui banyak dalam belantara pemikiran Romo Mangun meski tidak secara eksplisit. Diantaranya sebagaimana yang dituturkan secara tersirat sebagai berikut:

“Namun yang lebih penting ialah kebenaran yang tidak abstrak, akan tetapi yang sudah menjelma, merealisasi diri dalam sikap serta tindakan manusia yang benar, yang tidak bohong, tidak menipu, tidak palsu, melainkan yang betul, yang genuine, yang asli atau dengan istilah lain: yang fitri. Dalam aspek itulah benar(verum) lalu mengejawantahkan diridalam yang baik (bonum) dan dalam pengetrapan khususnya: yang indah (pulcbrum) bila diteruskan ke dalam aspek pertanggungjawaban manusia yang berdaulat dan berkehendak merdeka, maka kebenaran berbunga menjadi yang bermoral, yang etis, yang susila.”[18].

Kemudian Romo Mangun juga menyatakan bahwa secara kodrat pada diri manusia sudah tertanam bakat-bakat atau potensi-potensi yang diberikan oleh Tuhan padanya. Diantara potensi-potensi tersebut ialah potensi ingin selalu tahu, ingin bertanya, ingin mengeksplorasi, ingin maju, ingin mekar dan ingin mencapai kepenuhan diri. Pandapat ini ia sandarkan pada pemikiran filusuf klasik Yunani, Socrates dan juga tokoh psikologi perkembangan anak kenegaraan Swiss, Jean Piaget[19].

Selain itu Romo mangun juga menyatakan bahwa pada dasarnya manusia ialah makhluk bahasa. Dalam arti manusia ialah makhluk yang mempunyai potensi berkomunikasi yang berguna atau digunakan sebagai alat untuk mengembangkan potensi-potensi awal yang dipunyainya. Bahasa yang dimaksud Romo Mangun di sini ialah bukan bahasa yang berarti sempit, yakni bahasa hanya symbol verbal komunikasi lisan, namun lebih dari itu, yaitu juga menyangkut komunikasi lain yang bermacam-macam bentuk, semisal bahasa tubuh, bahasa gerak, bahasa isyarat dan bahkan interaksi sosial[20]. Atau, jika meminjam pernyataan Paul Suparno, manusia pada dasarnya, dengan bahasa yang berarti luas pastinya, ialah makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup dan berkembang menuju kesempurnaan tanpa bantuan atau bersama orang lain[21].

Selain manusia adalah makhluk yang bebas, mempunyai bakat atau potensi bawaan, dan makhluk bedimensi sosial, menurut Romo Mangun manusia juga makhluk yang bernilai dan ber-Tuhan. Manusia makhluk yang bernilai karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang berharga, yang tidak dapat direndahkan atau diperkosa haknya. Terkait keyakinan ini terlihat jelas pada kegigihan Romo Mangun memperjuangkan kesejahteraan masyarakat miskin baik dari segi kesejahteraan rohani yakni dengan jalan pendidikan, maupun dari segi kesejahteraan jasmani semisal pendampingan warga tepi Kali Code dan warga korban pembangunan waduk Kedungombo dengan pembuatan perumahan[22].

Kemudian maksud manusia makhluk ber-Tuhan ialah makhluk yang memiliki dan membutuhkan Tuhan. Dalam arti untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang penuh dan utuh, harus menjalin relasi yang baik dengan Tuhan yang menciptakannya. Dengan kesadaran ini maka manusia akan menjalin hubungan yang harmonis baik dengan sesama manusia maupun dengan alam semesta yang notabene-nya sebagai sama-sama makhluk Tuhan. Atau lebih mudahnya, kesadaran ketuhanan ini dijadikan dasar nilai untuk bercarapandang, bertindak, bersikap, dan juga nantinya dijadikan dasar nilai atas semua ilmu pengetahuan. Keterangan ini tertuang jelas pada pernyataannya tentang kurikulum yang ia analogikan dengan sebuah pohon yang dikutip oleh A. Supratiknya sebagai berikut:

“Akar-akar pohon mewakili mata pembelajaran sejarah dan geografis yang berfungsi memberikan identitas dan orientasi diri kepada anak. Batang pohon mewakili mata pembelajaran bahasa, matematika dan sains yang berfungsi memberikan bekal ketrampilan yang efektif untuk berkomunikasi dan memahami realitas lingkungan benda, flora dan fauna. Mahkota daun mewakili berbagai mata pembelajaran ekspresi dan ketrampilan yang berfungsi memberikan bekal untuk pengolahan alam baik di dalam maupun diluar manusia. Diterangi oleh matahari yang mewakili religiusitas dan bulan yang mewakili budi etis pancasila, semua itu dimaksudkan menjadi kesatuan organis yang utuh dan harmonis.[23]

Beberapa pokok pemikiran filsafat manusia ini kemudian dijadikan prinsip hidup Romo Mangun yang ia sebut dengan Tri Bina, yakni bina manusia, bina usaha, dan bina lingkungan. Dan pastinya, prinsip hidup ini juga akan mempengaruhi konsep pendidikannya[24].

B. Filsafat Pengetahuan

Filsafat yang membicarakan tentang pengetahuan ini disebut dengan epistemology[25]. Menurut filsafat (epistemology) klasik pengetahuan itu sudah ada dan sudah jadi. Tugas guru ialah mentransfer pengetahuan itu ke dalam otak anak didik, sehingga anak didik menjadi tahu. Filsafat ini dilandaskan pada filsafat John Locke yang mengatakan bahwa anak didik adalah bagaikan selembar kertas putih atau tabula rasa. Lalu tugas guru di sini ialah memberi tulisan-tulisan pada kertas kosong tersebut[26].

Kemudian menurut Romo Mangun, yang nota bene-nya pengikut dari filsafat konstruktifisme[27], pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) siswa sendiri yang belajar. Jadi pengetahuan ialah bukan hal yang sudah jadi, melainkan proses menjadi. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Romo Mangun sebagai berikut:

Anak aktif mengkonstruksi atau mereka-reka sendiri konsep atau gambaran tafsiran dalam pikirannya tentang apa yang ia lihat dan alami secara berkesinambungan terus menerus. Dari konsep rekaan tafsiran yang satu ke konsep rekaan tafsiran yang lain.

Proses pengembangan intelegensi si anak adalah proses bersinambung dalam pikiran anak yang terus-menerus membuat rekaan gambaran baru tentang segala apa yang sudah ia ketahui terdahulu[28].

Untuk lebih jelasnya tahap-tahap dari proses mengetahui ini ialah sebagaimana yang dicontohkan Romo Mangun berikut:

Sang ibu memberi tahu anaknya bahwa benda yang dilihatnya itu disebut khutuk. Untuk sesaat anak merasa puas dengan pengetahuan itu, kepuasan ini disebut equilibrium (keseimbangan). Kata khutuk akan muncul dalam benak si anak setiap melihat anak ayam yang lain, dan proses ini disebut sebagai asimilasi (pencernaan). Ketika suatu saat si anak melihat seekor anak itik berenang di selokan keseimbangan tentang khutuk terganggu. Ia melihat khutuk yang bentuknya berbeda dan bisa berenang. Ketidakseimbangan ini disebut disequilibrium. Ketidakseimbangan ini membuat si anak menafsir ulang konsep pengetahuannya terdahulu, proses ini disebut akomodasi (suatu penyesuaian diri dengan situasi baru). Proses akomodasi ini memunculkan kata baru “khutuk banyu”. Proses mengatasi disequilibrium ini disebut dengan equilibration. Ketika sang ibu memberi tahu kata “meri” untuk sebutan khutuk banyu yang dikenal sebelumnya, si anak tidak merasa kesulitan sebab hanya tinggal soal nama. Pembentukan konsep baru telah terjadi ketika si anak mengkonstruksi binatang kecil yang bisa berenang di selokan sebagai khutuk banyu[29].

Dari uraian di atas, Romo Mangun ingin memperlihatkan bahwa proses bertanya anak sudah dimulai sejak mereka mulai berinteraksi dan belajar mengenali lingkungan yang ada disekitarnya, dan akan terus berkembang seumur hidupnya. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar gagasannya tentang konsep Belajar Sejati, yakni sebuah tahap di mana seseorang punya kesadaran diri untuk memperhatikan, mempelajari, dan menekuni segala hal yang dialaminya sehari-hari secara terus-menerus[30]. Jadi ‘Belajar Sejati’ merupakan proses belajar yang tidak terikat oleh tempat dan waktu, atau lebih mudahnya belajar tidak harus melalui sekolah formal, namun bisa kapan saja dan di mana saja.

C. Visi Pendidikan

Dengan berlandaskan keyakinan-keyakinan di atas, menurut Romo Mangun visi pendidikan tidak lain ialah ‘Belajar Sejati’ itu sendiri, yakni mengantar dan menolong anak didik untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri, dewasa, dan utuh; bukan Cuma menjadi kepingan serba pasrah belaka kepada mesin besar yang tak dia ketahui susunannya dan arahnya; manusia merdeka sekaligus peduli dan solider dengan sesama manusia lain dalam ikhtiar meraih kemanusiaan yang terjadi, dengan jati diri serta citra diri yang semakin utuh harmonis dan integer[31].

Kemudian, supaya ‘Belajar Sejati’ tersebut terwujud, Romo Mangun menunjuk dua kompetensi dasar yang harus diterapkan dan dikuasai anak didik. Pertama, kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa yang dilengkapi dengan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan sesama[32]. Kedua, pemekaran jiwa anak yang eksploratif, kreatif, dan integral. Kemampuan eksploratif membuat anak suka mencari, bertanya, dan menyelidik. Kemampuan kreatif membuat anak bisa mencipta hal-hal baru yang lebih baik dan berguna. Kemampuan integral membuat anak bisa melihat dan menghadapi beragam segi kehidupan dalam keterpaduan yang utuh[33].

D. Konsep Kurikulum

1. Orientasi

Romo Mangun mengkritik kurikulum nasional mulai dari kurikulum 1974, 1984, dan kurikul 1994. atau bahkan kurikulum sekarang jika sifatnya sama dengan kurikulum pada masa-masa kehidupannya itu. Menurut Romo Mangun kurikulum-kurikulum tersebut hanya menekankan pada aspek kognitif saja. Sebab hanya menekankan pada sisi materi (padat Materi) dan melupakan sisi ketrampilan dan amalnya. Ditambah lagi kesemuannya itu telah ditentukan secara seragam oleh pemerintah pusat, baik beban mata pelajaran, cara pengajaran, dan system evaluasinya (THB, NEM, dan EBTA) yang mengakibatkan anak didik buta dengan lingkungan sekitar serta kehilangan daya kreitifitas dan eksplorasi yang akan menuntunnya pada belajar sejati. [34]. Kemudian untuk mencapai tujuan tersebut, menurut Romo Mangun kurikulum harus bersifat kontekstual, dimanis, dan berdasar pada kebutuhan, kemampuan, potensi dan jenjang umur anak didik[35].

Selain itu, supaya anak didik mampu menghadapi dunia yang semakin menglobal sebagaiman sekarang, menurut Romo Mangun kurikulum juga harus diarahkan pada sasaran itu. Artinya, kurikulum juga harus memberikan alat pada anak didik untuk menghadapinya. Menurutnya, alat yang perlu diberikan pada anak didik terkait ini ialah penguasaan teknologi dan bahasa. Bahasa yang tidak berarti sempit, yakni hanya sebagai alat komunikasi verbal, namun bahasa yang berarti luas yang juga menyangkut tentang kemahiran interaksi. Sebab, dengan ini anak didik bisa mengakses informasi dan ilmu pengetahuan bertaraf internasional dengan mudah dan juga mampu mengkomparasikannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain. Terkait ini Romo Mangun mengutip kata mutiara “penguasaan bahasa X adalah anak kunci dunia dan harta perbendaharaan budaya bangsa X itu”[36].

Hal yang perlu diperhatikan lagi ialah terkait keberagaman potensi, bakat-minat, daya tangkap dan kecenderungan yang dimiliki oleh anak didik. Diakui atau tidak hal ini adalah sunah alam yang harus dihargai dan dikembangkan. Kurikulum tidak bisa dipaksakan pada anak didik, biarkan mereka memilih sendiri sesuai dengan kecenderungannya. Sebab anak kunci yang paling menentukan bagi perkembangan anak didik pada hakikatnya ialah perhatiannya (concern), pilihan pribadinya, dan di mana hatinya[37]. Maka dari itu, Romo Mangun sangat menolak system yang otoriter, doktriner dan sentralisasi.

Dari uarain panjang tersebut bisa dipahami bahwa orientasi kurikulum yang digagas oleh Romo Mangun ialah orientasi kemandirian anak didik dengan pola-pola kurikulum yang kontekstual, dinamis, demokrasi, humanis, menganut system desentralisasi, dan ia menolak kurikulum yang berakhir pada pembunuhan karakter anak didik, a histories dan padat isi.

2. Isi/ Materi

Sebagaimana telah diulas pada sub bab sebelumnya, bahwa kurikulum harus bersifat kontekstual, dinamis, bertumpu pada kemampuan dan kebutuhan anak didik, maka di sini peneliti paparkan beberapa mata pelajaran yang diterapkan oleh Romo Mangun di SDKEM sekaligus dasar pemikiran yang melatarinya, mata pelajaran tersebut sebagaimana berikut:

  1. Pendidikan Seni

Pendidikan seni di sini tidak bermaksud agar anak didik menonjol dalam mementaskan seni, namun lebih bertujuan untuk membina cita rasa, kepekaan kebudiawanan yang mengarah kearifan anak didik. Selain itu pendidikan seni juga berguna untuk mempertajam pikiran, kreativitas dan mnyehatkan tubuh[38].

  1. Olah Raga

Tujuan mata pelaran ini ialah selain memang untuk menjadikan tubuh anak didik sehat, juga juga bertujuan untuk menumbuhkan jiwa sportif dan fair anak didik. Jadi bukan bertujuan untuk menang atau berjaya dalam bermain, namun lebih menekankan nilai dan manfaat yang terkandung di dalamnya[39].

  1. Pendidikan Keterampilan

Tujuan pelajaran ini adalah agar anak didik harus belajar untuk yakin, bahwa semua pekerjaan tangan atau kasar, terutama yang dikerjakan oleh rakyat kalangan bawah, sungguh-sungguh berguna, berharga, dan mengharukan. Dalam arti tujuan pendidikan ini ialah untuk menghilangkan rasa minder, pesimis dan canggung anak didik dalam segala hal[40].

  1. Pendidikan Bahasa dan Komunikasi

Tujuan pendidikan ini ialah untuk memberi bekal anak didik untuk masa depannya nanti. Dengan penguasaan bahasa, baik bahasa komunikasi interaksi maupun bahasa verbal, baik bahasa nasional maupun bahasa internasional, anak didik mampu hidup di manapun. Selain itu dengan bekal ini anak didik juga akan mudah untuk menyerap informasi dan ilmu pengetahuan secara mandiri. Sehingga wawasan yang dimilikinya bisa lebih luas dan bertambah[41].

  1. Pelajaran IPA dan IPS

Pelajaran ini diberikan sesuai dengan kebutuhan anak didik. Dalam arti dipilah mana yang perlu diketahui dan mana yang tidak ada salah dan ruginya jika tidak diketahui. Yang penting diketahui adalah kunci dan anak kunci serta rahasia-rahasia di mana ada dan bagaimana cara memperoleh informasi atau pengetahuan. Dan yang jelasnya lagi, kesemuanya itu harus sesuai dan relevan dengan kehidupan keseharian anak didik[42].

  1. Komunikasi Iman

Pengajaran ini berangkat pemahaman bahwa sesungguhnya setiap anak telah berbakat religius. Tapi bakat religius anak itu perlu dibantu. Dalam pelajaran ini yang diutamakan bukan pengetahuan tentang agama, melainkan mendampingi anak didik demi pemekaran sikap dasar dari dalam diri berupa hati nurani dan niat serta tekad untuk berbuat, khususnya berbuat cinta kasih. Jadi komunikasi iman tidak lagi berupa pengajaran, penataran, hafalan belaka, tentang agama. Namun yang terjadi adalah dialog, komunikasi, interaksi dan terutama perbuatan antar iman yang dimiliki oleh anak didik dan civitas akademik[43].

Dari sini bisa dipahami bahwa tujuan mendasar pendidikan komunikasi iman ini ialah menumbuhkan sikap religius anak, yakni agar anak didik semakin punya sikap dasar yang betul, hati nurani yang peka terhadap yang baik dan menolak segala yang buruk. Dan juga, dengan komunikasi iman ini anak didik diharapkan mampu menghormati perbedaan dan keberagaman.

Terkait religiusitas, Romo Mangun membedakannya dengan agama. Yang pertama menekankan substansi, sementara yang kedua berhenti pada formalitas[44]. Seorang yang beragama secara legal-formal, tidaklah praksis menjadi religius, jika pada kenyataannya seluruh aktifitasnya disandarkan pada pemenuhan kebutuhan duniawi dan mengabaikan kemanusiaan serta kesetabilan alam. Begitupun sebaliknya, seseorang bisa menjadi religius jika seluruh aktivitasnya disandarkan secara sungguh-sungguh dengan pengabdian pada ketuhanan, kemanusiaan, dan keseimbangan alam[45].

Bagi Romo Mangun, pengajaran agama tetap perlu dilaksanakan, namun tempatnya adalah di dalam keluarga, di masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya, bukan di sekolah. Sekolah harus bersifat dan bersikap inklusif, terbuka bagi murid dari berbagai agama[46].

  1. Matematika

Menurut Romo Mangun, pelajaran matematika adalah pelajaran penting kedua setelah bahasa karena membantu anak untuk dapat berpikir logis, kritis, teliti, berabstraksi, bisa mengambil keputusan, dan kreatif[47]. Hal ini sama dengan yang dinyatakan oleh J. Drost, tokoh yang sering mengkonter pemikiran Romo Mangun. Menurutnya, meski matematika adalah ilmu kuantitas, namun mengajarkan seseorang bernalar logis[48].

h. Kotak Pertanyaan, Baca Buku Bagus, dan Majalah Meja

Ketiga mata pelajaran ini beserta mata pelajaran komunikasi iman dan pendidikan seni, bisaanya diadakan pada setiap hari Sabtu dan menjadi mata pelajaran khas SDKEM. Kelima mata pelajaran khas tersebut merupakan cara untuk melatih kepekaan anak didik untuk mencermati lingkungan keseharian[49].

Kotak pertanyaan berfungsi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan anak didik tentang sesuatu yang dianggap belum tahu. Pertanyaan-pertanyaan yang terkumpul kemudian dibahas bersama-sama pada hari Sabtu siang. Lalu dengan baca buku bagus, anak didik diajak untuk memperluas cakrawalanya, diajak keluar dari tempurung tradisionalisme konservatifnya, diajak mengenal kebudayaan lain, dan diajak mengenal dialektik antar sana dan sini. Hal ini dilakukan dengan cara guru bercerita kepada murid[50].

Kemudian, dengan adanya majalah meja, anak didik bisa langsung belajar dengan hanya melihat meja yang ditempatinya. Artinya bagaimana membuat anak didik dekat dengan bahan atau sumber pengetahuan. Majalah meja ini diisi dengan artikel-artikel baik dari koran maupun majalah yang diganti setiap hari Minggu oleh staf[51].

  1. Evaluasi

Terkait evaluasi, Romo Mangun tidak setuju dengan system evaluai normative sebagaimana THB, UAN, NEM dan Ebtanas. Apalagi kesemuanya ini dilakukan dengan cara top down. Sebab, system evaluasi ini menurutnya hanya akan membunuh daya kreatifitas dan eksplorasi anak didik, kemudian membuat belajar hanya untuk mengejar nilai, menghilangkan rasa solidaritas serta kerja sama, menyuburkan komersialisasi buku-buku wajib dan lain-lain yang sering sungguh justru memperbodoh murid, semisal menjamurnya bimbingan tes, tempat kursus yang menggunakan system drill dan serba mahal[52].

Selain itu, menurut Romo Mangun evaluasi harus mengikutsertakan orang tua murid. Keikutsertaan orang tua sangat diharapkan agar bisa mengetahui kegiatan anak didik ketika berada dirumah. Sebab untuk mencapai pada ‘Belajar Sejati’ anak didik diharapkan tidak hanya belajar di sekolah saja, namun dimana saja dan kapan saja, baik di sekolah atau ketika berada di rumah. Maka komunikasi antara Guru dan wali murid menjadi faktor penting[53].

Terkait dengan absensi, Romo Mangun tidak terlalu menghiraukan. Sebab, menurutnya mau berangkat sekolah atau tidak itu ialah kebebasan dari anak didik. Namun, di SDKEM, jika anak didik tidak berangkat lebih dari tiga hari, maka guru atau pihak sekolah akan mendatangi rumahnya dan menanyakan apa masalah atau penyebabnya. Jika karena masalah dana, maka pihak sekolah akan mencarikan solusianya.

Dengan dasar di atas, maka absensi tidak mempengaruhi naik kelas atau tidaknya anak didik, jika dia mampu melalui tes yang diadakan maka dia bisa naik kelas. Bahkan, Romo Mangun tidak setuju adanya keputusan tidak naik kelas. Anak yang tinggal dikelas dikhawatirkan membuat anak didik patah semangat karena malu, kehilangan teman-temannya dan merasa jadi anak yang paing bodoh[54].

E. Konsep Pembelajaran

  1. Guru dan Murid

Dalam pembelajaran, menurut Romo posisi anak didik dengan guru Mangun ialah sama, yakni sama-sama menjadi subjek belajar. Jadi hubungan yang terjadi diantara mereka ialah hubungan dialogis, antar keduanya saling belajar dan saling mengisi, bukannya saling mendominasi.[55]. Hal inilah yang menurut Friere menjadi pembeda antara pendidikan yang membebaskan dengan pendidikan konvensional[56].

Dalam konsep ini, guru hanya berfungsi sebagai teman, penolong, dan bidan bagi anak didik. Fungsi bidan di sini sangat penting dan diharapkan aktif, tidak menonton saja, akan tetapi tetap bukan primer yang mencerdaskan dan memekarkan anak didik[57]. Dalam arti guru harus menggunakan nilai Ajrih-Asih secara seimbang[58].

Maka dari itu, untuk mencapai hubungan ideal di atas, menurut Romo Mangun seorang guru harus memenuhi criteria berikut, antara lain: profesional, demokratis, dialogis, intelektual, dan harus menghayati tugas guru sebagai panggilan hidup[59]. Kemudian, karena dewasa ini kualitas guru sangat rendah dan kesejahteraannya kurang layak, Romo Mangun berharap pada pemerintah untuk mengusahakan dan memperhatikannya[60].

  1. Pendekatan dan Metode Pembelajaran

Untuk mencapai ‘Belajar Sejati’, Romo Mangun menganjurkan beberapa pendekatan dalam pembelajaran, yakni pendekatan joyfull learning, child-center learning, active learning dan kekeluargaan. Dengan kata lain, pembelajaran harus berpusat pada anak didik dan juga bagaimana membuat mereka merasa senang dan enjoy dalam belajar, atau dalam bahasa Romo Mangun ialah dalam ‘Suasana Hati Merdeka’[61].

Kemudian, terkait dengan metode pembelajaran Romo Mangun menggunakan metode Konstruktif-Progresif, yakni setiap metode pembelajaran yang membantu siswa melakukan kegiatan dan akhirnya dapat mengkonstruksi pengetahuan yang mereka pelajari dengan baik[62]. Jika ditelusuri, ada beberapa metode yang diterapkan di SDKEM, antara lain:

a. Metode Penemuan

Dalam penerapan metode ini, anak didik dilatih untuk terbiasa melakukan pengamatan, membuat hipotesis, memunculkan prediksi, menguji hipotesis, memanipulasi objek untuk melihat perubahannya, memecahkan masalah, mencari jawaban sendiri, menggambarkan kejadian, meneliti, berdialog, melakukan refleksi, mengungkapkan pertanyaan, dan mengekspresikan gagasan selama proses pembentukan konstruksi pengetahuan yang baru[63]. Metode ini terlihat jelas di SDKEM. Anak didik sering diberi tugas untuk observasi langsung ke lapangan, semisal mengamati batu, bus, atau kereta api[64].

b. Metode Dialog dan Diskusi

Metode ini, menurut Romo Mangun bisa terjadi antara guru dengan anak didik ataupun antara anak didik dengan anak didik lainnya. Yang pertama bisa dilakukan dengan cara guru merangsang anak didik untuk bertanya dan yang kedua dengan cara membentuk anak didik menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing diberi tema pembahasan. Cara yang kedua ini, selain antar anak didik bisa saling belajar juga bisa untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan saling menolong[65].

c. Metode Cerita

Di SDKEM, metode ini Romo Mangun terapkan pada mata pelajaran Baca Buku Bagus yang kala itu ia meminta tolong temannya, Butet Karta Rajasa, untuk mengisi dari padanya[66]. Menurut Romo Mangun,. metode ini sangat efektif, karena anak didik akan merasa enjoy dan lebih mudah untuk memperhatikan isi buku. Jika anak didik sudah mulai menaruh perhatian, maka ia akan mulai mengkonstruksi pengetahuannya[67].

d. Metode Pluspunt

Metode pluspunt adalah metode berhitung realistic-mempelajari matematika dari permasalahan keseharian anak. Anak didik belajar berhitung dari perkara realitas nyata dan mudah dibayangkan. Di SDKEM metode ini diterapkan pada mata pelajaran matematika[68].

Selain pendekatan dan metode di atas, untuk membantu pemahamn anak didik menurut Romo Mangun juga diperlukan yang namanya laboratorium dan alat peraga. Namun menurutnya hal ini tidak harus mahal, tetapi bisa memanfaatkan sesuatu yang terdapat di lingkungan sekitar sekolah[69].

  1. Partisipasi Orang tua dan Masyarakat

Bagai ikan dalam air, begitulah Romo Mangun mengibaratkan sekolah dengan masyarakat. Maju atau mundurnya suatu sekolah sangat ditentukan oleh masyarakat yang melingkupinya, dan pastinya orang tua masuk di dalamnya. Maka dari itu, keikutsertaan masyarakat dan orang tua dalam pendidikan sangat urgen dibutuhkan.

Terkait masyarakat, Romo Mangun Mengutip pernyataan Jean Jacques Rousseu sebagaimana berikut, “ Manusia dilahirkan berkodrat baik, masyarakat yang merusaknya”. Menurutnya, meskipun orang tua adalah unsure fital dalam mempengaruhi perkembangan anak didik, namun sebenarnya mereka hanya meneruskan pengarahan yang diterima dari masyarakat. Dengan kata lain, masyarakatlah yang sebenarnya membentuk anak didik[70].

Sisi masyarakat (Indonesia khususnya Jawa) yang dikritik Romo Mangun ialah sisi mental dan system kemasyarakatannya. Menurutnya, mental yang digunakan oleh masyarakat ialah mental orang yang dijajah, yakni mental inggih ndoro, ndoro-kawulo (primordialisme), dan menggunakan system kemasyarakatan fungsionalisme structural. Sebuah tatanan masyarakat yang mempunyai anggapan bahwa manusia hidup selalu menempati posisinya masing-masing yang memang sudah jatah-nya[71]. Mental dan sistem yang seperti ini, menurutnya akan membuat anak didik menjadi bernilai skunder dan orang tua atau masyarakat seakan berhak untuk memaksakan kehendaknya terhadap mereka. Proses ini akhirnya akan membuat anak didik menjadi kerdil, terkekang, dan kehilangan daya kreatifitas serta eksplorasinya. Maka dari itu, terkait ini Romo Mangun menggagas untuk dilakukan revolusi kebudayaan, yakni revolusi budaya dari struktur-struktur feudal dan eks-kolonial menuju system kebudayaan yang memerdekakan[72].

Kembali pada hubungan anatara sekolah dengan masyarakat dalam membentuk dan mencapai tujuan pendidikan sejati, Romo Mangun menggagas supaya komponen-komponen pendidikan yang muncul dalam masyarakat tersebut, yakni pendidikan Formal, Nonformal, dan pendidikan Informal harus disinergiskan, tidak boleh diunggulkan salah satunya sebagaimana sekarang[73].

D. Kesimpulan


[1] Baharuddin, Moh. Makin, PENDIDIKAN HUMANISTIK (Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam Dunia Pendidikan), (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 5.

[2] Y. Dedy Pradipto, Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional : Konstelasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2007), 21.

[3] Fika Murdiana, “Sekolah Yang Memerdekakan Murid”, (Kanisius on line, http://www.kanisiusmedia.com, 20 Mei 2007, diakses tanggal 24 Januari 2008).

[4] Dedy Pradipto, Belajar Sejati, hlm. 22

[5] Ahmad Bahrudin, Pendidikan Alternatif Qoryah Toyyibah, (Yogyakarta: LKiS, 2007), 8-9.

[6] Ibid, hlm. Xiii.

[7] Dedy Pradipto, Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional, (Yogyakarta: Kanisius, 2007.), hlm. 31.

[8] Ibid,.

[9] Hariqo Wibawa Satria, “Belajar Dari YB. Mangunwijaya”, http://ricows.wordpress.com, diakses tanggal 20 Maret 2008.

[10] “Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ”, http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya, diakses tanggal 20 Maret 2008.

[11] Ibid.

[12] Pradipto, Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional, 32.

[13] “Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ”, http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya, diakses tanggal 20 Maret 2008.

[14] Pradipto, Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional, 32.

[15] “Yusuf Bilyarta Mangunwijaya”, http://www.architerian.net, diakses tanggal 20 Maret 2008.

[16] “SD Mangunan: Belajar Sambil Bermain di Alam Bebas”, http://www.sinarharapan.co.id, diakses tanggal 20 Maret 2008.

[17]Asyer Tandapai, “Gereja Diaspora: Paguyuban Kharismatik Sosio-Religius”, http://www.geocities.com/forlog/gerejakarismatik.htm, diakses tanggal 15 April 2008.

[18] YB. Mangunwijaya, Menuju Republik Indonesia Serikat,(Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999), 243.

[19] YB. Mangunwijaya, “Sisi Balik Medali Emas Ibnu Siena”, dalam Impian Dari Yogyakarta, ed. St. Sularto, (Yogyakarta: Kompas, 2005), 282-283.

[20] YB. Mangunwijaya, “ Pendidikan Manusia Merdeka, dalam Impian Dari Yogyakarta, ed. St. Sularto, (Yogyakarta: Kompas, 2005), 272.

[21] Paul Suparno, SJ, Dkk., Reformasi Pendidikan: Sebuah Rekomendai, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002), 12.

[22] Mayong S. Laksono, “ Romo Mangun: Merakyat Untuk Balas Budi Rakyat”, http://www.indomedia.com diakses tanggal 10 Mei 2008.

[23] A. Supratiknya, “Romo Mangun dan Pendidikan”, dalam pengantar, Impian Dari Yogyakarta (Yogyajarta: Kompas, 2005), XXiV.

[24] Singgih Nugroho. Pendidikan Pemerdekaan dan Islam. (Yogyakarta: Pondok Edukasi, 2003), 53.

[25] Suparno, Reformasi Pendidikan, 15.

[26] Alex Sobur, Psikologi Umum. (Bandung: Pustaka Setia, 2003), 148.

[27] YB. Mangunwijaya, “Sisi Balik Medali Emas Ibnu Siena”., 283.

[28] Pradipto, Belajar Sejati, 72.

[29] YB. Mangunwijaya, “ Cah Bodo Sangsoyo Akeh/ Arang”, dalam Impian Dari Yogyakarta, ed. St. Sularto, (Yogyakarta: Kompas, 2005), 220-221.

[30] Pradipto, Belajar Sejat,68-69.

[31] YB. Mangunwijaya. “ Pendidikan Menjelang Tahun 2000 (I)”. dalam Impian Dari Yogyakarta, ed. St. Sularto, (Yogyakarta: Kompas, 2005), 176.

[32] YB. Mangunwijaya, “ Pendidikan Manusia Merdeka”, 272.

[33] Pradipto, Belajar Sejati, 69.

[34] Pradipto, Belajar Sejati. 57-59.

[35] YB. Mangunwijaya.” Terima Kasih, Pak Fuad Hasan!”. dalam Impian Dari Yogyakarta, ed. St. Sularto, (Yogyakarta: Kompas, 2005), 208.

[36][36] . YB. Mangunwijaya. “Pendidikan Menjelang Tahun 2000 (II)”. dalam Impian Dari Yogyakarta, ed. St. Sularto, (Yogyakarta: Kompas, 2005),185.

[37] YB. Mangunwijaya, “Seandainya Saya Gubernur Jenderal Hindia Belanda”. dalam Impian Dari Yogyakarta, ed. St. Sularto, (Yogyakarta: Kompas, 2005), 250.

[38] Suparno, Reformasi Pendidikan,32.

[39] Ibid,. 34-35.

[40] Nugroho, Pendidikan Pemerdekaan,69.

[41] YB. Mangunwijaya, “Pendidikan Manusia Merdeka”, 272-273.

[42] Nugroho, Pendidikan Pemerdekaan,71.

[43] Ibid,.

[44] YB. Mangunwijaya. Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: Renungan Filsafat Hidup Manusia Modern. (Yogyakarta: Kanisius, 1999), 165-166.

[45] TH. Sumartana, Mendidik Manusia Merdeka: Romo Y.B. Mangunwijaya 65 Tahun. (Yogyakarta: Interfidei, 1995), vi.

[46] Nugroho, Pendidikan Pemerdekaan. 72.

[47] Pradipto, Belajar Sejati. 128.

[48] J. Drost. Dari KBK Sampai MBS. (Jakarta: Buku Kompas, 2006), 80.

[49] Ibid,. 116.

[50] YB. Mangunwijaya.”Bila Kuda Andong Mati”. Dalam Impian dari Yogyakarta. Ed. St. Sularto. (Yogyakarta: Kompas, 2005), 265-266.

[51] Pradipto, Belajar Sejati. 86.

[52] YB. Mangunwijaya, “Cah Bodo Sangsaya Akeh/Arang”., 218-219.

[53] Ibid,. 124.

[54] Ibid,. 125.

[55] YB. Mangunwijaya. “ P dan K Rakyat Semesta”. Dalam Impian dari Yogyakarta. Ed. St. Sularto. (Yogyakarta: Kompas, 2005), 145.

[56] Ira Shor dan Paulo Friere. Menjadi Guru Merdeka: Petikan Pengalaman. Terj. A. Nasir Budiman. (Yogyakarta: LKiS, 2001), 50.

[57] YB. Mangunwijaya. “ Sisi Balik Medali Emas Ibn Siena”., Dalam Impian dari Yogyakarta. Ed. St. Sularto. (Yogyakarta: Kompas, 2005), 282.

[58] Pradipto. Belajar Sejati., 45.

[59] Paul Suparno. “Pendidikan dan Peran Guru”. Dalam Pendidikan Manusia Indonesia. Ed. Tonny d. Widiastono. (Jakarta: Buku Kompas, 2004), 129-131.

[60] YB. Mangunwijaya. “ Sisi Balik Medali Emas Ibn Siena”.,280.

[61] Pradipto, Belajar Sejati, 82.

[62] Suparno, Reformasi Pendidikan, 47.

[63] Ibid.,

[64] Pradipto, Belajar Sejati, 64.

[65] Ibid., 130.

[66] Ibid., 160.

[67] Nugroho, Pendidikan Pemerdekaan, 65.

[68] Pradipto, Belajar Sejati, 148.

[69] Ibid., 87.

[70] YB. Mangunwijaya. “ Untuk Kaum SD Inna ‘Llaha ma’a ‘Ssabirin”. Dalam Impian dari Yogyakarta. Ed. St. Sularto. (Yogyakarta: Kompas, 2005), 229-230.

[71] George Ritzer dan D.J. Goodman. Teori Sosiologi Modern. Terj. Alimandan. (Jakarta: Kencana, 2004), 118.

[72] YB. Mangunwijaya. “ P dan K Rakyat Semesta”., 146.

[73] YB. Mangunwijaya. “ Dimensi Nonformal dan Informal”. Dalam Impian dari Yogyakarta. Ed. St. Sularto. (Yogyakarta: Kompas, 2005), 163-171.

About these ads
Published in: on November 3, 2008 at 3:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: http://alymasyhar.wordpress.com/2008/11/03/konsep-pendidikan-yb-mangunwijaya-pr/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: