Nilai-Nilai Dasar Pergerakan (NDP)[1]

By : Aly Masyhar Abdel Hanan[2]

Sebagai organisasi pergerakan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/ Indonesian Moslem Student Movement (Baca : PMII) mempunyai rumusan nilai-nilai dasar pergerakan (Baca : NDP) yang digunakan sebagai landasan untuk berpikir, bergerak dan tali pengikat (Kalimatun Sawa’) warga pergerakan dalam satu cita-cita perjuangan sesuai tujuan organisasi. Secara rinci, NDP dibutuhkan untuk memberi kerangka, arti, motivasi gerakan, legitimasi serta memperjelas langkah untuk mencapai cita-cita mulia didirikannya organisasi.

Selain itu, NDP juga dijadikan sandaran organisasi dalam menegakkan Tauhid, hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam dalam kehidupan sehari-hari. Dan pastinya kesemuanya itu dihayati dan dipahami dengan menggunakan kerangka Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

A. Arti

NDP adalah rumusan nilai-nilai yang diturunkan secara langsung dari ajaran Islam serta kenyataan masyarakat dan negeri Indonesia dengan menggunakan kerangka pendekatan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Dalam definisi ini kalau dicermati ada tiga poin yang harus dicermati dan digaris bawahi, yakni Islam, Negeri Indonesia, dan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Maka untuk lebih jelasnya alsan-alasan kenapa PMII mengambil poin-poin itu sebagai berikut:

1. Islam.

Selain memang PMII adalah Organisasi yang menyatakan diri sebagai Organisasi orang Islam, PMII juga meyakini dengan sepenuh hati bahwa agama Islam adalah Agamanya dan Agama yang paling sempurna. Maka dari itu semua anggota harus menghayati serta mengamalkan ajaran-ajarannya secara Kaffah, baik aspek Iman (Aqidah), Islam (Syari’ah), maupun aspek Ihsan (Etika, akhlak, dan tasawuf), untuk semata-mata memohon Ridlo Allah SWT serta memohon agar selamat di dunia dan di akherat kelak (Sa’adah fid Daroini).

2. Indonesia

Indonesia adalah negara dimana PMII hidup dan disemaikan, bahkan bisa dikatakan Negara Indonesia ialah Rumah serta medan gerakan dan perjuangan PMII. Oleh karena itu, sebagai penghuni Negara PMII dan anggotanya wajib memegang komitmen untuk memperjuangkan cita-cita kemerdekaannya dalam bidang apapun.

3. Aswaja

Selain memang Aswaja diyakini sebagai faham yang paling benar, PMII memilihnya juga didasrkan pada kondisi negara Indonesia, yakni negara yang majmuk baik agama, etnis, maupun budayanya. Oleh karena itu, dengan faham Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang mengenal nilai kemerdekaan (al Hurriyah), persamaan (al Musawah), keadilan (al ‘Adalah), toleransi (at Tasamuh), dan nilai perdamaian (ash Sulhu) ini maka PMII dan anggotanya harus menjaga dan melestarikan kemajemukan tersebut. Dan pastinya hal itu dilakukan ketika tidak mengorbankan dan menyimpang dengan ke-“Islam”-an.

B. Fungsi

NDP berfungsi sebagai:

1. Kerangka Ideologis

a. Menjadi penegak tekad dan keyakinan anggota untuk bergerak dan berjuang mewujudkan cita-cita dan tujuan organisasi.

b. Menjadi landasan berfikir dan etos gerak anggota untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan minat dan keahlian masing-masing.

2. Kerangka Refleksi

Sebagai kerangka refleksi, NDP merupakan ruang untuk melihat dan merenungkan kembali secara jernih setiap gerakan dan tindakan organisasi yang telah dan akan dilakukan telah mendekati NDP atau tidak. Hal ini dilakukan dengan cara mendialogkan antara gerakan dan tindakan tersebut dengan NDP secara terus menerus.

3. Kerangka Aksi

Sebagai kerangka aksi, NDP merupakan landasan etos gerak organisasi dan anggota. Tahap ini sebenarnya ialah tahap kedua setelah dilakukannya refleksi, dalam arti setelah dilakukan refleksi maka selanjutkan harus berikhtiar untuk mewujudkannya dalam bentuk aksi (nyata) dan kemudian setelah selesai dilakukan refleksi kembali. Proses circle ini harus dilakukan secara terus menerus, dengan maksud selain supaya tetap dalam lingkaran NDP juga supaya NDP itu sendiri bisa benar-benar mendarah daging pada anggota.

C. Kedudukan

Kedudukan NDP adalah:

1. Menjadi rujukan utama setiap produk hukum dan kegiatan organisasi.

2. Menjadi sumber kekuatan ideal setiap kegiatan organisasi.

3. Menjadi pijakan argumentasi dan pengikat kebebasan berfikir, berbicara dan bertindak setiap anggota.

D. Rumusan

Dari sublimasi antara nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai keindonesian, NDP dirumuskan menjadi 4 poin, yakni Tauhid, Hubungan Manusia dengan Tuhan (Hablu Minallah), Hubungan Manusia dengan Manusia (Hablu Minannas), Hubungan manusia dengan Alam (Hablu Minalalam). Untuk lebih jelasnya sebagai berikut:

1. Tauhid

Mengesakan Allah SWT merupakan nilai paling asasi dalam sejarah agama samawi. Di dalamnya telah terkandung sejak awal tentang keberadaan manusia. (al-Ikhlas, al-Mukminun 25, al-Baqarah, 130-131).

Pertama, Allah adalah Esa dalam segala totalitas, dzat, sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan juga Allah adalah dzat yang fungsional.

22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

23. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kedua, keyakinan seperti di atas merupakan keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari alam semesta, serta manifestasi kesadaran dan keyakinan kepada hal yang goib.

3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Ketiga, oleh karena itu Tauhid merupakan titik puncak, melandasi, memandu dan menjadi sarana keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan dan perwujudan melalui perbuatan. Maka, konsekuensinya PMII harus mampu melarutkan dan meneteskan nilai-nilai tauhid dalam segala tindak keidupannya.

39. Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Selain itu, dengan keyakinan ini, PMII harus mampu memisahkan dengan tegas antara hal-hal yang profane dan yang sacral. Selain atas Allah SWT boleh dilakukan dekonstruksi dan desakralisasi. Sehingga tidak terjadi penghambaan pada hal-hal yang sifatnya profane.

Keempat, PMII memilih pendekatan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk memahami dan menghayati keyakinan Tauhid.

2. Hablu Minallah

Allah SWT menciptakan manusia lebih sempurna disbanding makhluk Allah SWT yang lain. Kelebihan itu ialah pemberian daya piker, kemampuan berkreasi dan kesadaran moral daripadanya. Dengan kelebihan ini pula, manusia memerankan dua fungsi sekaligus dengan seimbang, yakni sebagai Kholifah fil Ardl dan sebagai Hamba Allah.

165. Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dengan kedua pola hubungan dengan Allah SWT tersebut, PMII harus menyadari arti niat dan ikhtiar sekaligus ketaqwaan dan kerendahan diri pada Allah. PMII harus berusaha sekuat tenaga dan kemudian menyerahkannya hasilnya kepada Allah SWT. Manusia adalah makhluk yang merdeka menentukan dirinya , namun tetap terbatasi oleh ketentuan-ketentuan yang dikehendaki Allah SWT, Takdir.

Selain itu, dengan karunia akal dan fitrah uluhiyah (Fitrah yang selalu memproyeksikan tentang kebaikan dan keindahan), manusia dimungkinkan untuk menirukan kemahakuasaan Allah SWT. Dalam arti manusia mampu membumikan kemahakuasaan Allah SWT melalui dirinya. Semisal Allah Maha Rahman dan Rohim kepada hamba-Nya, maka bagaimana manusia itu berusaha untuk Rohman dan Rohim kepada sesamanya dan lain sebaginya.

3. Hablu Minannas

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan mulia disbanding makhluk Allah SWT lainnya. Meski demikian, manusia satu dengan manusia lainnya tidaklah sama, maksudnya setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Maka dari itu, untuk memenuhi kebutuhan dan mewujudkan eksistensi dirinya, manusia membutuhkan kerjasama dengan yang lain. Kerjasama ini, tidak akan tercapai dengan baik jika manusia tidak mempunyai sikap keterbukaan, komunikasi dan dialog yang egaliter serta perasaan kesetaraan antar sesamanya. Sebagimana telah difirmankan Allah SWT dalam Surat al-Hujurat :13.

13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Untuk lebih jelasnya, nilai-nilai dalam hubungan antar manusia di atas tercakup dalam persaudaraan antara insan pergerakan, persaudaraan sesama umat islam, persaudaraan sesama warga negara dan persaudaraan antar sesama manusia. Khusus untuk berhubungan dengan non muslim (sesama manusia), maka hubungan tersebut dilakukan guna membentuk kehidupan yang lebih baik tanpa mengorbankan keyakinan dan kebenaran Islam sebagai ajaran kehidupan paripurna.(QS. Al Kafirun).

Dengan keyakinan ini, maka bisa ditarik kepahaman bahwa perjuangan PMII tidak mengenal batas, entah batas agama, ras, etnis atupun yang lainnya. Siapa yang tertindas dan terdlolimi haknya, maka kepada merekalah PMII berpihak.

4. Hablu Minalalam

Alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. Di dalamnya terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya. Selian menciptakannya, Allah SWT juga menentukan ukuran dan hukum-hukum terhadapnya serta menundukkannya kepada manusia.

Dengan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang terdapat pada alam, manusia bisa menjadikannya sebagai wahana dalam bertauhid dan menegaskan eksistensinya. (al Jaatsiyah , 12-13). Kemudian dengan diketahuinya ukuran dan hukum serta penundukannya terhadap manusia, hal ini dimaksudkan supaya manusia bisa mengambil kemanfatan terhadap alam semesta dengan tanpa berlebihan, bukan hanya menjadikannya sebagai objek eksploitasi. (ar-Rum, 41).

Sebagaimana yang telah dipahami bersama, yakni manusia satu dengan manusia lainnya adalah setara baik hak dan derajat kecuali ketaqwaannya, maka hak untuk menikmati dan memanfaatkan alam semesta pun juga harus sama, tidak dibenarkan jika salah satunya memonopoli daripada yang lainnya. Singkatnya, pemanfaatan alam semesta ini harus seimbang dan untuk kemakmuran bersama (al-Mu’minun, 17-22). Wallahu A’lam Bish-Showab



[1] Makalah ini dibuat untuk MAPABA PMII Tribakti Kediri pada 30 Okt 2008 di balai Desa Ngablak Banyakan Nganjk

[2] Kader PMII Komisariat Tribakti Kediri angkatan ’04.

Published in: on November 3, 2008 at 3:24 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2008/11/03/nilai-nilai-dasar-pergerakan-ndp1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: