SYEKH PUJI; Cengkraman Nalar Positivisme.

SYEKH PUJI; Cengkraman Nalar Positivisme.

Baru-baru ini, kita digemparkan oleh berita tentang pernikahan anak di bawah umur. Tepatnya ialah pernikahan seorang pengusaha kaya dari Semarang, yakni Syeh Puji, dengan Ulfa, seorang anak perempuan kelas tiga SLTP yang konon katanya berasal dari keluarga miskin.

Mulanya, pernikahan kedua sejoli itu berjalan sebagaimana adanya, tidak ada problem apa pun. Namun, ketika salah satu LSM melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Alasan dari Lembaga yang mengatasnamakan memperjuangkan hak anak tersebut selain Syeh Puji adalah seorang yang sering menikahi anak-anak gadis di bawah umur dan kemudian menceriakannya dengan waktu yang sangat singkat, juga –menurutnya- menyalahi KUHP tentang perkawinan. Menurutnya, dalam KUHP tentang perkawinan disebutkan bahwa pengantin perempuan harus sudah berumur di atas 16 Tahun, dan kenyataannya Ulfa, si pengantin perempuan Syeh Puji, masih berumur 12 Tahun.

Selain itu, Kak Seto Mulyadi, Komnasham perlindungan anak, menyatakan bahwa tindakan Syeh Puji tersebut telah melanggar HAM. Katanya, tindakan tersebut bias menghancurkan mental, psikologi dan masa depan anak.

Kemudian, di belahan lain, para intelektual medis juga menyatakan bahwa pernikahan anak di bawah umur tersebut juga bias mengakibatkan timbulnya kanker di rahim. Sebab, menurutnya, rahim si anak tersebut belum siap.

Melihat fenomena ini, dari diri penulis timbul beberapa pertanyaan. Pertama untuk LSM, kenapa hanya Syeh Puji yang dilaporkan dan di klaim menyalahi KUHP ? dan juga kenapa baru sekarang pelaporannya?. Kedua, benarkah hal itu bias menghancurkan psikologi anak?!, untuk Kak Seto. Dan yang terakhir terkait opini para medis, benarkah juga hal itu pasti akan mengakibatkan munculnya penyakit kanker pada rahim si anak?. Sebelumnya perlu diketahui, pertanyaan-pertanyaan ini muncul dari diri penulis sebab penulis tidak setuju 100% pada apa yang dikatakan, atau mungkin lebih tepatnya yang dituduhkan, oleh ketiga elemen di atas. Jadi, posisi penulis di sini ialah di seberang jalan, atau ‘Subversif’ dalam istilah Jurgen Habermas.

Untuk mengurai alasan ketiga pertanyaan itu, dibawah ini penulis akan jelaskan satu-persatu.

Pertama, alasan pertanyaan kami kepada pihak LSM yang mengajukan permasalahan tersebut pada pihak kehakiman. Kenapa hanya Syekh Puji dan kenapa juga baru sekarang-sekarang ini di permasalahkan?. Hal ini sebab, banyak masyarakat yang melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Syekh yang konon katanya pernah beristri beberapa kali itu, bahkan bias dikatakan lebih parahjika diukur dari tingkat umur si perempuannya. Misalkan di daerah Kediri, terdapat 2 kasus sama, kemudian di daerah Madura, banyak terjadi pernikahan di bawah standar umur yang telah ditetapkan oleh KUHP, yakni yang laki-laki harus berumur minimal 19 Tahun dan yang perempuan berumur 16 Tahun. Beberapa kasus pernikahan ini ada yang memang resmi melalui jalan resmi, melalui KUA atau catatan Sipil, dan adapula yang hanya Kawin di bawah tangan (Kawin sirri).

Dengan melihat kenyataan di atas, maka bias dipahami bahwa pengajuan pihak LSM kepada pihak hokum dan mengeklaim bahwa Syeh Puji telah melanggar KUHP adalah bias dikatakan pilih kasih. Sebab, pernikahan serupa di beberapa daerah lain tidak dianggap menyalahi KUHP dan dilaporkan kepihak kehakiman.

Kemudian, bukankah dalam KUHP, kelanjutan dari standar umur minimum, juga dituliskan bahwa jika umur dari kedua atau salah satu dari suami-istri yang akan melakukan pernikahan belum mencukupi umur sebagaimana yang ditetapkan maka pernikahan bias dilakukan dengan syarat dari pihak keluarga terkait menyetujuinya. Lalu , jika pernyataan ini di kaitkan dengan kejadian pernikahan Syekh Puji, maka dengan sendirinya Syekh Puji tidak melanggar KUHP. Sebab dari pihak keluarga si Ulfa, dan Ulfa sendiri, menerima dan memberikan izin atasnya. Dalam arti pihak keluarga yang dianggap sebagi korban oleh pihak LSM dan pihak yang menentang lainnya, ternyata mereka sendiri tidak mempermasalahkannya. Jadi, kalau menurut hemat penulis, pihak-pihak penentang tersebut sudah terlalu ikut campur pada masalah yang masuk pada private problem, yakni sebuah problem yang jika dari pihak terkait tidak mempermasalahkan dan melaporkan sendiri, pihak hokum tidak mempunyai hak atasnya. Bukankah pernikahan itu adalah termasuk pada masalah privasi seseorang atau keluarga?.

Lho.., itu sudah melanggar hak asasi anak?, sebab masa keceriaan dan kebebasannya sudah dipangkas sebelum pada waktunya. Pemangkasan ini akan mengakibatkan mental, psikologi dan jiwa anak tersebut akan menjadi tertekan?!”. It’s Ok?! kami setuju, jika hal itu memang dilakukan karena ada unsure paksaan dan penekanan. Namun, pada kasus syeh Puji ini, tidak ada unsure paksaan. Sebab, dalam beberapa keterangan yang ada, si ulfa sendiri mengatakan bahwa dia tidak pernah dipaksa

Untuk menikah dengan syekh Puji, bahkan di suatu kesempatan ia mengatakan bahwa dia sangat mencintai Suaminya dan tidak mau berpisah dengannya. Jadi dari sini argument yang mengatakan hal itu merenggut kebebasan dan keceriaan anak di atas sudah mentah. Sebab, dalam kenyataannya si Ulfa enjoy-enjoy aja, bahkan malah terlihat tertekan dengan adanya kasus pemermasalahan pernikahannya ini. Kemudian bukankah malah pemermasalahan pernikahannya inilah yang sebenarnya menjadikan mental dan psikologi si anak berumur 12 Tahun itu tertekan dan hancur?. Bagian ini sekaligus sudah menjawab atau memberikan penolakan pada pertanyaan kedua, yakni seputar pendapat Kak Seto Mulyadi.

Lalu terkait dengan alasan penolakan yang ketiga, yaitu terkait dengan pernyataan para medis bahwa pernikahan dibawah umur tersebut akan mengakibatkan kanker rahim, benarkah?. Coba kita lebarkan pandangan kita, yakni kita mencoba untuk mencari contoh, pernikahan di bawah umur, yang telah banyak dan lama berlaku di masyarakat kita. Apakah mereka, yang telah lama nikah dengan umur yang masih dini bahkan lebih muda disbanding ulfa dan sekarang mereka sudah mempunyai satu atau dua anak, telah menderita kanker rahim yang diyakini oleh para medis itu?. Ternyata menurut kenyataan yang ada, hal itu tidak terbukti seratus persen. Sebab banyak kenyataan mengatakan berbeda. Meski mereka menikah dibawah umur namun mereka sama sekali tidak menderita kanker rahim. Anda tidak percaya?, bias anda teliti di daerah-daerah pedesaan yang banyak terjadi hal itu.

Kesimpulannya, tindak pelaporan dan permasalahan fenomena syekh puji tersebut, entah dengan dasar atau dari sudut pandang ketiga element tersebut tidak bias dibenarkan. Yang ada adalah pemaksaan dengan berdasarkan jubah HAM dan scientist. Dan pengangkatan masalah ini pada public lebih terlihat ada kepentingan terselubung dibaliknya, entah apa bentuknya penulis belum mengetahuinya secara jelas, entah itu masalah ekonomi ataupun yang lainnya. Wallahu a’lam bishowab.

Published in: on Desember 19, 2008 at 3:33 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2008/12/19/syekh-puji-cengkraman-nalar-positivisme/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: