Hilangkan UAN..!!

Setiap akhir semester, siswa kelas akhir disetiap jenjang mulai tingakat SD, SMP, SMA dan yang sederajat sebelum lulus harus melalui ujian yang dilakukan pemerintah secara nasional (UAN/UNAS). Dengan inipun, pemerintah, khususnya departemen pendidikan, jauh-jauh hari sudah sibuk, yakni harus menyiapkan soal ujian beserta lembar jawabannya, pemantau, polisi, transportasi pengiriman hingga meminta bantuan team independent untuk ikut memantau.
Tujuan diadakan UAN adalah untuk mengetahui kuwalitas pendidikan dan juga berguna untuk meningkatkannya. Yang terakhir ini terlihat jelas dengan terus meningkatnya standarisasi nilai yang dipatok oleh BNSP mulai dari 3.00 hingga sekarang mencapai 5.00. Untuk mencapai hasil yang objektif dan maksimal sebagaimana yang diimpikan, pemerintah memberikan aturan yang ketat dan pengawalan yang ketat pula. Hal ini terlihat dengan pengawalan yang sangat ketat, yakni melibatkan pihak kepolisian dalam pengiriman soal-soal hingga sampai disekolah-sekolah, terdapatnya pemantau baik dari pihak pemerintah maupun independent dari perguruan tinggi dan LSM, dan masih banyak lagi lainnya.
Meski standarisasi nilai sudah dipatok tinggi dan proses dikawal ketat, namun dalam realitanya itu semua menguap tidak ada hasil. Kuwalitas pendidikan yang diidealkan tinggi ternyata tidak berhasil. Objektifitas hasil UAN pun juga lenyap karena di beberapa wilayah diindikasikan terjadi kebocoran kunci jawaban dan kecurangan-kecurangan. Disisi lain, para anak didik banyak yang mengalami tekanan mental, sehingga hasil ujiannya pun tidak maksimal. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya anak didik yang dalam kesehariannya mendapat nilai bagus dan masuk kategori murid yang pandai, namun ketika UAN mereka tidak lulus, ini kan aneh. Singkatnya, tujuan ideal UAN hanya ada diangan-angan dan dalam realitanya hanya menjadi alat penghancur dan pembunuh kreatifitas anak didik. Bagaimana tidak, la wong sekolah 3 tahun hanya dipertaruhkan selama 3 hari, itupun dengan standarisasi kelulusan yang sangat tinggi dan dengan mata pelajaran yang sudah ditentukan. Kita tahu bahwa setiap anak didik mempunyai kecenderungan masing-masing. Hal ini senada dengan yang dinyatakan oleh praktisi sekaligus kritikus pendidikan YB. Mangunwijaya,Pr., “anak akan mulai belajar jika ia sudah menaruh perhatiannya pada sesuatu tersebut”. Misalnya, seorang anak didik yang menaruh perhatiannya pada mata pelajaran matematika, maka ia akan serius mempelajarinya dan pastinya ia akan pandai dalam pelajaran itu. Hal ini berlaku pada pelajaran dan anak didik tertentu lainnya. Maka dari itu, pandai atau tidaknya anak didik tidak bisa diukur dengan UAN.
Melihat akibat negatif UAN di atas, maka kami berkesimpulan bahwa sudah waktunya UAN dihapus. Kenapa harus dihapus? Selain alasan-alasan diatas penulis akan menguatkan dengan alasan-alasan lain dibawah ini;

Banyak Biaya yang harus dikeluarkan
Untuk pelaksanaan UAN, Pemerintah harus mengeluarkan dana sangat banyak. UAN tahun ini saja memakan biaya hampir setengah (1/5) Trilyun Rupiah. Inikan sangat fantastis dan begitu pun hasilnya tidak maksimal. Apakah tidak lebih baik dana itu digunakan untuk hal yang lebih dibutuhkan oleh siswa lainnya? Semisal pemberian layanan internet di setiap sekolah secara gratis, penambahan koleksi buku perpustakaan, pembebasan uang seragam serta buku pelajaran dan lain sebagainya.

Membunuh Karakter Anak Didik
Sebagaimana diterangkan sebelumnya bahwa UAN berstandarisasi tinggi dan mata pelajaran yang dijadikan acuan hanya mata pelajaran tertentu yakni 5 mata pelajaran sesuai dengan jurusannya masing-masing. Melihat dari jurusan yang ada pun tidak bisa mengkafer kecenderungan dan bakat minat siswa, sebab hanya beberapa jurusan saja, yakni bahasa, IPA, IPS, dan jurusan dari sekolah-sekolah kejuruan. Ini pun dimulai pada tingkat menengah atas. Dengan ini, sudah bisa diketahui bahwa terjadi modus operandi pemangkasan karakter anak didik, sebab tidak semua anak didik menaruh minat terhadap salah satu jurusan/ mata pelajaran tersebut, namun standarisasi pandai atau tidak, lulus atau tidak disandarkan pada hal-hal itu. Singkatnya, kebebasan, kreatifitas, nalar kritis anak didik dipangkas, hal inilah yang dikritik oleh Paulo Friere, Ivan Illich dan Romo Mangun.

Double Barden dengan uji tes masuk
Tujuan pelaksanaan UAN ialah untuk mengetahui kemampuan anak didik dan bahkan, dalam realitanya, dijadikan ukuran kelulusan. Jika nilai rata-rata yang didapat anak didik tinggi, maka ia tergolong anak yang cerdas dan pastinya nanti jika ia melanjutkan studi ke tingkat yang lebih lanjut ia akan diterima dengan mudah dengan berdasarkan hasil tersebut. Namun, hal ini tidak lah demikian. Sebab aturan yang berlaku dalam penerimaan siswa baru, lembaga sekolah penerima tidak mempertimbangkan hasil UAN, ini bisa dibuktikan dengan adanya tes masuk. Diterima atau tidaknya pendaftar berdasarkan hasil nilai tes, bukannya nilai UAN. Dari sini maka tujuan UAN tersebut sebagian besar sudah gagal.

Menciderai Desentralisasi
Setelah tumbangnya rezim Orde Baru, pemerintah memberlakukan system Desentralisasi dalam politik dan pendidikan. Jadi, pemerintah daerah dan lembaga sekolah mempunyai wewenang luas untuk mengatur dirinya sendiri. Namun, dengan masih adanya UAN yang bersifat nasional dan tersentral, maka hal diatas hanya isapan jempol diatas, diluar terlihat otonomi namun sebenarnya masih tetap sentralisasi. Hal ini juga berlaku dalam menentukan kelulusan, pemerintah seakan memberi peran pada pihak sekolah, namun sebenarnya tetap saja pemerintah yang menentukannya. Sebagaimana yang diutarakan oleh salah satu kepala sekolah Madrasah Aliyah di Pare, “Memang pemerintah memberi peran pada pihak sekolah dalam menentukan lulus atau tidaknya siswa, namun itu hanya terjadi dalam suatu kasus, semisal siswa dalam UAN ia lulus namun menurut pihak sekolah ia tidak bisa diluluskan karena ia sangat nakal dan bandel, maka dalam kasus ini pihak sekolah boleh tidak meluluskan, tapi hal ini tidak bisa berlaku sebaliknya, yakni dalam UAN tidak lulus sedang menurut pihak sekolah lulus, maka pihak sekolah tetap tidak bisa mengubah keputusan pemerintah tersebut”(08/06/09). Dari sini bisa dipahami bahwa pemerintah belum bisa melaksanakan apa yang diputuskannya, yakni otonomi/ desentralisasi.

Kemudian, apa solusinya jika UAN dihapus? Menurut hemat penulis, pemerintah harus menyerahkan seluruh urusan pendidikan pada sekolah, dan hanya berfungsi sebagai mitra, fasilitator, donatur dan berusaha untuk memeratakan serta memenuhi sarana prasarana hingga memadai. Antara sekolah negeri dengan swasta, antara sekolah desa dan kota, antara sekolah unggulan dengan yang tidak, kesemuanya harus disamakan.
Terkait penjagaan mutu pendidikan dan pemerataan, pemerintah bisa melakukan observasi atau penarikan laporan hasil dari setiap lembaga sekolah. Dari data-data yang masuk, pemerintah bisa mengetahui kuwalitas pendidikan sekaligus mengetahui daerah atau lmbaga sekolah mana yang membutuhkan bantuan dan penanganan yang lebih serius.

Kediri, 10 Juni 2009

Almasy Te-Aa
Staff Pengajar & Peneliti Budaya

Biodata Penulis

Nama : Aly Masyhar (Almasy Te-Aa)
Alamat : IAI Tribakti Jl. KH. Wahid Hasyim 62. Mojoroto Kediri 64114
Email : lyp_aly@yahoo.co.id
Situs : http://www.alymasyhar.wordpress.com
No rek : 144-00-0973671-8 (Bank Mandiri Cabang Kediri)
Status :
– Anggota Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) IAI Tribakti Kediri.
– Staff Pengajar Ma’had Aly Lirboyo Kediri
– Anggota Komunitas Kajian dan Penelitian Agama dan Budaya ‘Songgolangit’ Kediri.

Published in: on Juni 15, 2009 at 3:56 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2009/06/15/hilangkan-uan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: