Interpretasi The Other atas Islam: Sudut Pandang Muslim (Study atas Artikel Muhammad Abdul Rauf)

Oleh: Aly Mashar Abdel Hanan

Dalam tulisannya ini, Abdul Rauf sangat jelas menunjukkan keresahannya atas kerja para Pengkaji Barat atas Islam yang menurutnya memojokkan Islam dan tanpa menghiraukan apa yang disuarakan oleh para Sarjana dan umat Muslim sendiri atas dirinya. Dengan kata lain, para Sarjana dan umat Muslim seakan tidak ada dan juga mungkin disengaja untuk ‘ditiadakan’. Islam hanya dilihat sebagaimana batu, kayu atau benda mati lainnya yang tidak mempunyai hasrat, keinginan, impian, dan pendapat untuk mendefinisikan dirinya.

Pada awal tulisannya, Abdul Rauf mengulas tentang bagaimana usaha Barat untuk mengkoloni Islam melalui pendidikan, disitu ia memberikan contoh kasus modernisasi-sekularisasi yang akan dilakukan Barat kepada Univeritas Al-Azhar pada tahun 1961. Menurutnya jika reformasi tersebut terjadi, maka keilmuan Islam tradisional yang ‘otentik’ sedikit demi sedikit akan mengecil pengaruhnya. Ditambah lagi dengan adanya gelombang teknologi informasi yang meruntuhkan sekat-sekat kebudayaan dan bangsa, maka tidak heran jika nanti umat Islam akan ‘berwajah dan berjiwa’ Barat dan meninggalkan ‘wajah dan jiwa’-nya sendiri, yakni Islam. Untungnya, ketika itu umat muslim dan Presiden Mesir serta para syeikh Al-Azhar menolak sehingga reformasi pun tidak jadi dilakukan. Meski demikian, Barat berhasil mereformasi kurikulum sekolah-sekolah Islam lainnya, yakni dengan memasukkan kurikulum sekuler di dalamnya. Dengan ini maka ketakutan-ketakutan sebagaimana di atas akhirnya terjadi pula. Pendidikan Islam tradisional ‘otentik’ semakin kecil perannya, dan pasca-Barat mendirikan sekolah-sekolah sekuler model Barat di Negara-negara Islam [bukan Negara Islam namun Negara yang rakyatnya mayoritas Islam] Lembaga pendidikan Islam dipersempit perannya, yakni hanya sebagai lembaga Pendidikan agama. Pada masa inilah [abad pertengahan] dalam tubuh Islam terjadi dikotomi antara keilmuan Islam dan non-Islam yang sebelumnya tidak pernah terbesit dalam benak Islam, sebab menurut Islam semua ilmu adalah Islam atau Ilahiyah.

Dengan adanya dikotomi keilmuan tersebut, keilmuan Islam untuk Timur [Islam] dan keilmuan non-Islam untuk Barat [Amerika dan sebagian Eropa], maka kemudian memunculkan metode dan pendekatan yang berbeda antara sarjana Barat dan sarjana Muslim dalam mengkaji Islam. Barat cenderung menggunakan metode ilmiah dan pendekatan histories dan Sarjana Muslim cenderung teologis. Studi Islam Barat didorong oleh kebutuhan akan kekuasaan colonial untuk belajar dan memahami masyarakat yang mereka kuasai, sementara Islam didorong oleh sikap pertahanan diri. Selain itu, menurut Abdul Rauf para Sarjana Barat dalam mengkaji Islam sangat dipengaruhi oleh ‘pra-anggapan’ negartif yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang suka kekerasan, anti modernisasi, sesat, dan dibawa oleh nabi palsu dan suka seksualitas. Oleh karena itu maka hasil akhir dari kajian Barat sering tidak ‘Objektif’ dan menyakiti hati umat Muslim.

Berdasarkan pada hal-hal di atas, menurut Abdur Rauf Para Sarjana Barat pengkaji Islam harus melepaskan ‘pra-anggapan’ tersebut dan menghiraukan pendapat dan suara umat muslim atas dirinya. Bahkan, menurutnya, untuk mengkaji Islam, khususnya terkait keimanan dan ajaran, para Sarjana Barat harus menggunakan metode yang digunakan oleh Umat Islam atau dibiarkan begitu saja sebagaimana yang dikatakan oleh umat Islam. Disini terlihat jelas kritik metode Abdur Rauf atas metode studi Islam Barat, dari explanation ke emphatic atau understanding.

Selain itu, untuk membuat pemahaman komprehensif Barat atas Islam, Abdur Rauf juga menyarankan pada para sarjana dan umat muslim untuk mampu menyuarakan dirinya pada Barat dan berusaha untuk mengambil hal positif dari modernisasi serta tanpa meninggalkan tradisi Islam yang kaya. Hal ini, menurut hemat saya, ditujukan Abdur Rauf supaya umat muslim mampu berdialog dengan peradaban Barat, bukannya sebaliknya sebagaima yang terjadi selama ini, yakni didekte dan diimajinasikan oleh Barat. Singkatnya, Abdur Rauf tidak menolak reformasi secara keseluruhan, namun harus disesuaikan konteks dan skup wilayahnya.

Published in: on Mei 20, 2010 at 8:27 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2010/05/20/interpretasi-the-other-atas-islam-sudut-pandang-muslim-study-atas-artikel-muhammad-abdul-rauf/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: