Islam in the Eyes of the West (Sebuah Kajian Artikel)

Oleh: Aly Mashar

Tulisan ilmiah ini, secara implicit dimaksudkan oleh Sang penulisnya untuk menjelaskan perjalanan studi agama dan studi atas sejarah agama-agama dunia. Tema yang diambil di atas, sebenarnya menggambarkan paradigma para sarjana Barat awal dalam mengkaji agama atau sejarah agama the other. Kemudian, setelah tuntas membahas kesalahan paradigma para sarjana Barat awal tersebut, penulis artikel ini menyatakan ketidaksetujuan atasnya dan menawarkan paradigma baru, yakni mengakui pluralitas agama-agama dan menempatkan agama-agama pada konteks kesejarahannya. Hal terakhir ini dimaksudkan supaya mendapatkan pemahaman yang komprehensif atas agama-agama the other, khususnya Islam. Pada awal pembahasan tulisannya ini, sang penulis menyatakan adanya pembedaan antara Barat dan Timur yang diciptakan oleh Barat. Pembedaan ini sebenarnya bukan bersifat geografis, namun lebih pada pembedaan secara politis dan ideologis yang ditujukan untuk mendeskriditkan the other. Barat adalah kaum yang rasional, beradab, maju, dan unggul; sementara Timur adalah kaum yang irrasional, tak beradab, terbelakang, dan ‘rendahan-primitif’, sehingga memerlukan bimbingan untuk meningkatkan statusnya. Dengan ini, maka Barat seakan ‘sah’ dan ‘berkewajiban’ untuk melakukan ‘pemberadaban’ pada Timur. Pemberadaban ini tidak lain ialah ‘kolonialisme’ itu sendiri. Berdasar pada tujuan ‘kolonialisme’ berselubung ‘pemberadaban’ ini, kebanyakan orang Timur tidak menyadari jika dirinya sedang ‘dikoloni’, bahkan tidak sedikit yang menerima Barat sebagai pahlawan yang membawa dirinya pada peningkatan status serta kesejahteraan. Kemudian sang penulis menjelaskan sebab-sebab munculnya pembedaan Barat dan Timur. Menurutnya, pembedaan ini dipengaruhi (1) oleh pemahaman agama Kristen [Gereja pra-Konsili II] yang menyatakan bahwa ‘tidak ada keselamatan diluar Gereja’. Dalam arti, agama-agama diluar Kristen adalah salah dan para nabinya adalah palsu atau sesat. Dengan ini maka menjadi ‘kewajiban’ orang Kristen untuk menyelamatkan the other dengan mengkonversi mereka ke dalam agama Kristen. (2) Dipengaruhi oleh filsafat ‘Evolusi’ Darwin. Aliran filsafat ini menyatakan bahwa manusia, masyarakat atau bangsa bergerak maju dari primitif ke modern, dan yang telah mencapai pada level modern ialah ras atau bangsa Barat, sementara the other masih dalam level bawah-nya. (3) Ambisi kolonialisme. Sebenarnya, pengaruh yang ketiga ini -menurut hemat saya- merupakan akibat dari kedua sebab sebelumnya. Dengan pemahaman atas the other sebagaimana di atas, maka para sarjana Barat awal dalam memahami atau mengkaji agama-agama atau sejarah agama-agama diluar dirinya [Kristen] bukan untuk mengetahui dan berdialog, namun untuk menjatuhkan, mendominasi, dan membantu -secara pengetahuan- kolonialisasi. Yang dihasilkan oleh kajian para sarjana Barat ialah warna-warna negatif agama-agama the other. Hal ini tak pelak tertuju pula pada agama Islam. Para sarjana Barat awal menyatakan bahwa Islam adalah agama yang anti modernisasi, bar-bar, suka peperangan, dan nabinya adalah nabi palsu dan suka seksualitas. Bahkan, ada beberapa sarjana yang menyatakan bahwa tidak ada agama [termasuk Islam] diluar agama Kristen. Pemahaman stereotip negatif atas the other ini, terutama Islam, hingga masa Modern atau bahkan hingga sekarang masih tetap eksis meskipun tidak sekuat dulu. Tokoh yang pertama kali menghancurkan -atau setidaknya membuka mata Barat atas the other, terutama terhadap Islam- adalah seorang teolog Jerman bernama Hans Kung dan diperkuat kembali Edward W Said dengan karya monumentalnya ‘Orientalisme’ pada decade akhir-akhir ini. Dengan berdasarkan pada kajian panjangnya atas perjalanan, paradigma dan cara kerja para sarjana Barat di atas, penulis artikel ini menyatakan bahwa sudah waktunya para sarjana Barat dewasa ini mengakhiri ‘pra-anggapan’ sebagaimana di atas. Para sarjana studi agama atau sejarah agama-agama harus mengakui pluralitas, menempatkan agama-agama the other pada konteks kesejarahannya, dan meninggalkan ‘generalisasi-buta’. Metode kajian yang terakhir ini [generalisasi-buta] menurut Sang penulis adalah metode yang selalu digunakan oleh para Sarjana studi agama Barat awal. Dan metode ini, menurutnya, selalu menutup fenomena keragaman yang terdapat pada agama the other tertentu. Misalnya, Islam pada realita yang ada tidak hanya terdapat kaum fundamentalis-radikal yang suka perang dan anti modernis sebagaimana yang dianggap Barat, namun banyak varian yang berbeda-beda, bahkan tidak sedikit umat Islam yang menolaknya. Oleh karena itu, para sarjana Barat harus melihat Islam dengan cara melepas pra anggapan dan komprehensif, bukannya reduksi sempit seperti di atas.

Published in: on Mei 20, 2010 at 8:16 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2010/05/20/islam-in-the-eyes-of-the-west-sebuah-kajian-artikel/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: