Study of Clifford Geertz’s Work: The Religion of Java (Melacak Metodologi Kerja Geertz)

Oleh: Aly Mashar Abdelhanan

Pada kajian singkat ini, penulis akan mengkaji salah satu karya monumental Geertz “The Religion of Java’ dengan tujuan untuk melacak metodologi serta pendekatan apa yang digunakan di dalamnya. Tema ini penulis pilih karena selain karya itu adalah salah satu karya monumentalnya juga karena lokasi penelitiannya di salah satu wilayah Indonesia yang kebetulan penulis pernah hidup dan berdomisili disekitas itu beberapa saat, jadi penulis sedikit banyak mengetahui konteksnya.

Kajian ini penulis sistematikakan sebagaimana berikut: pertama penulis akan menjelaskan waktu dan lokasi penelitian Geertz. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui konteks dan histories dari penelitian itu dilakukan. Kedua, penulis akan mengulas beberapa poin yang dikaji Geertz dalam karyanya The Religion of Java. Ini penulis maksudkan untuk apa saja yang dikaji oleh Geertz dan juga untuk memberi gambaran sekilas yang kemudian dapat dilihat metode apa yang digunakan di dalamnya. Ketiga, berdasarkan pada kedua penjelasan sebelumnya penulis mencoba untuk melacak metodologi apa yang digunakan oleh Geertz di dalam karyanya tersebut. Terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan atas kajian ini.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa kajian ini meski akan mengkaji karya The Religion of Java Geertz, namun karena keterbatasan waktu dan juga karena karya itu sangat tebal, penulis tidak akan membahasnya secara keseluruhan. Penulis akan memfokuskan pada bagian pertama dari ketiga bagian karya tersebut, yakni pada bagian Abangan. Meski demikian, kajian ini bukan berarti kurang bahan dan kurang dalam, sebab menurut hemat penulis bagian pertama tersebut sudah bisa mewakili dari tujuan kajian ini. Selain itu, dalam kajian ini penulis menggunakan The Religion of Java versi bahasa Indonesia-nya, sebab versi Inggris-nya tidak penulis dapatkan.

  1. A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian yang akhirnya diwujudkan dalam buku The Religion of Java itu dilakukan Geertz sekitar tahun 1950-an di sebuah wilayah pelosok Jawa Timur, Mojokuto. Guna penelitiaannya tersebut, Geertz tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat di sana selama sekitar 6 tahun. Dia mengikuti apa yang dilakukan dan dipraktekkan oleh masyarakat setempat. Dia juga menguasai bahasa masyarakat setempat (Jawa) dengan bagus, sehingga dia tidak kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka dan tanpa perantara translator.

Nama Mojokuto, dan begitu juga nama Kaupaten pusat ‘Bragang’ yang beberapa kali disebutkan dalam karya tersebut, menurut hemat penulis bukanlah nama asli tetapi nama samaran yang hingga sekarang penulis tidak mengetahui apa tujuannya. Alasan penulis mengatakan nama kota itu adalah ‘nama samaran’ karena penulis yang nota bene-nya orang Jawa Timur dan beberapa saat tinggal di daerah situ tidak pernah mengenal nama-nama daerah sebagaimana yang disebutkan oleh Geertz tersebut. Berdasarkan pada beberapa penjelasan Geertz tentang demografi singkat Mojokuto, nama-nama situs, sejarah, dan beberapa nama desa menurut hemat penulis daerah yang dimaksudkan oleh Geertz tersebut tidak lain ialah Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur. Mojokuto adalah Pare sementara Bragang adalah Kediri. Untuk lebih jelasnya di bawah ini penulis jelaskan beserta kutipan penjelasan Geertz tentangnya.

“Mojokuto, kota kecil di bagian tengah Jawa Timur, tempat studi dilakukan, terletak di ujung paling timur suatu dataran besar persawahan yang telah memperoleh irigasi … Setengah hari perjalanan dari surabaya … Daerah pedalaman yang datar dan subur mulai menanjak ke lereng gunung berapi yang menjulang di timur, yang letusan-letusan periodiknya memberikan kesuburan kepada dataran itu” (the religion of java, hal. 1).

“Kawedanan memerintah lima lima kecamatan yang berdampingan, termasuk kecamatan Mojokuto sendiri; selanjutnya kawedanan itu berada di bawah pemerintah daerah (kabupaten), yang ibu kotanya ialah Bragang, kota yang dekat disitu. … Markas regional angkatan kepolisian negara terletak di Mojokuto, tidak di Bragang, demikian juga jawatan pegadaian negara dan rumah sakit untuk wilayah itu” (hal. 5)

“Ada sejumlah punden semacam itu di daerah Mojokuto, … Tetapi yang paling terkenal, paling sering dipuja dan dianggap paling berkuasa, adalah makhluk halus yang tinggal di pusat kota Mojokuto, di pinggir alun-alun, namanya mbah buda, …”

“dulu kala, ‘pada jaman buda’, sultan Solo, suatu ibukota kerajaan Jawa tengah, terlibat dalam peperangan dengan raja madura. Sultan Solo menang dan mengejar raja madura yang melarikan diri ke timur laut ke tempat asalnya. Dalam perjalanan itu ia singgah di Mojokuto, yang waktu itu masih berupa hutan … Untuk memberi kesempatan istirahat pada prajurit-prajuritnya. … Raja meletakkan patung ganesha [mbah buda] untuk menandai tempat di bawah pohon beringin besar. … Patung itu pernah di pindahkan ke Bragang, kurang lebih dua puluh kilometer jauhnya, namun ia kembali dengan kekuatannya sendiri ” (hal. 30).

“Sebagai missal, di Sumbersari, desa yang terletak tepat di sebelah utara Mojokuto, …” (hal. 34).

Dari beberapa kutipan di atas, yang perlu di garis bawahi ialah Mojokuto terletak ‘di sebelah Barat gunung berapi yang meletus secara periodik’; ‘ di tengah-tengah kotanya terdapat punden Mbah Buda’, Rumah Sakit daerah, penggadaian Negara, Markas Kepolisian Negara dan sekitar 20 kilometer dari Kabupaten ‘Bragang’’; ‘sejarah perjalanan Raja Madura’.

Gunung berapi yang letusannya periodic di wilayah tengah Jawa Timur hanya ada satu, yakni Gunung Kelud yang terletak diwilayah bagian Timur Kediri. Menuju pada kesimpulan gunung Kelud ini juga diperkuat dengan penyebutan perjalanan pelarian Raja Madura. Menurut kisah dalam Babad Tanah Jawa, Raja tersebut ialah Prabu Trunajaya dari Madura. Karena kalah perang dengan Sultan Solo, maka dia melarikan diri ke Kediri, tepatnya di lereng Gunung Kelud. Di situ kemudian dia ditemukan dan ditangkap oleh prajurit Solo dengan bantuan tentara Belanda dan akhirnya Prabu Trunajaya dihukum mati oleh Sang Sultan.[1] Dari sini maka sudah bisa disimpulkan bahwa daerah itu terletak di Kabupaten Kediri.

Sementara data-data yang menunjukkan pada ‘Kecamatan Pare’ ialah penjelasan Geertz tentang letak punden Mbah Buda dan tempat dimana beberapa komponen penting kabupaten berada di sana. Sebagaimana kutipan di atas, letak punden Mabah Buda ialah di pusat kota atau alun-alun Mojokuto. Yang perlu dicermati di sini ialah: pertama alun-alun dan kedua adalah letak punden Mbah Buda. Kecamatan yang mempunyai alun-alun di Kediri hanyalah Kecamatan Pare, dan diperkuat lagi dengan letak punden Mbah Buda tidak lain ialah disekitar alun-alun itu, yakni Jalan Tamrin. Tidak Cuma itu, Letak Rumah Sakit Daerah dan markas kepolisian Negara tidak bertempat di pusat Kabupaten Kediri, namun di kecamatan Pare. Rumah Sakit Daerah terletak di desa Pelem di Utara Kampung Inggris Pare, desa Tulungrejo, dan sekitar 1 kilometer di Barat alun-alun, Jalan Tamrin. Kemudian letak markas kepolisian berada disekitar alun-alun. Diperkuat lagi dengan penyebutan Geertz atas desa Sumbersari. Desa terakhir ini tidak lain ialah sebuah desa yang berada di sebelah Timur alun-alun sekitar 2 atau 3 kilometer dan di desa itu serta daerah sekitarnya tumbuh banyak Pondok Pesantren besar seperti Pon. Pes Sumbersari, Pon-Pes Kencong dan Pon-Pes Sumberagung yang kemungkinan besar menjadi pusat kajian varian Santri Geertz. Karena Geertz menyebutkan bahwa desa Sumbersari terletak tepat di Utara ‘Mojokuto’, maka bisa diperkirakan bahwa tempat domisili Geertz tidak lain ialah di desa Senowo, Mojokuto desanya. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa nama Kecamatan pada umumnya diambil dari salah satu nama desa di dalamnya, semisal di Desa Padangan, dimana penulis tinggal, terdapat dusun atau dukuh yang benama Padangan pula.

Dari ulasan di atas maka bisa disimpulkan bahwa penelitian Geertz dilakukan di wilayah Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur, dan tempat dimana Geertz tinggal diperkirakan di desa Sewono, sebuah desa tepat berada disebelah Selatan desa Sumbersari.

  1. B. Sekilas The Religion of Java

Secara garis besar, kajian dalam buku The Religion of Java dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian pertama membahas tentang varian Abangan yang difokukan pada Slametan dan hubungannya dengan keyakinan-keyakinan kaum Abangan, ruh-ruh halus, petungan Jawa, ritus-ritus dan lain-lainnya. Kemudian bagian kedua membahas tentang varian Santri dan terakhir membahas tentang varian Priyayi.

Ketiga varian ini, sebenarnya ialah varian struktur social masyarakat Mojokuto yang kemudian berimplikasi pada pemahaman keagamaan mereka. Dalam arti, meskipun masyarakat Mojokuto sembilan puluh persen menganut agam Islam, namun perwujudannya bervariasi sebagaimana ketiga variasi tersebut, yakni Abangan, Santri, dan Priyayi. Abangan lebih menekankan pada pentingnya aspek-aspek animistic; Santri pada aspek-aspek Islam; dan Priyayi pada aspek-aspek Hindu. Selain itu Geertz juga merelasikan ketiga varian itu pada lingkungannya, meski Geertz juga mengatakan bahwa kategorisasi lingkungan ini tidak kaku, yakni: Abangan dengan Pedesaan; Santri dengan Pasar; dan Priyayi dengan institusi atau kantor pemerintah. Jelas di sini bahwa Geertz tidak mengaitkan atau mempermasalahkan pada benar atau salah-nya masing-masing keyakinan itu menurut ajaran sumber Islam, namun lebih pada mendeskripsikan perwujudan pemahaman dan praktek-praktek yang muncul dari padanya.

Karena, sebagaimana dijelaskan di awal, kajian ini tidak akan membahas buku The Religion of Java secara keseluruhan namun hanya terfokus pada bagian pertama dari padanya, maka di sini kami hanya akan menjelaskan focus kajian itu.

Dalam kajiannya pada varian Abangan, Geertz membaginya kembali menjadi beberapa bab kajian, yakni: (1) Slametan Pesta Komunal sebagai Upacara Inti yang meliputi pola dan maknanya; (2) Kepercayaan Terhadap makhluk Halus yang menjelaskan tentang varian-varian Makhluk halus dan maknanya bagi masyarakat Abangan. Pada bab ini Geertz sangat jelas dalam memainkan interpretasi berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai outsider, seperti komparasinya atas jenis atau nama makhluk halus local setempat dengan nama hantu di Barat Amerika, dan juga Geertz berusaha tidak larut dengan kebenaran sebagaimana yang diperlihatkan atau dinyatakan oleh masyarakat setempat, atau lebih mudahnya ia berusaha untuk mendeskripsikan fakta itu secara ‘objektif’. Hal terakhir ini diperlihatkan Geertz dengan menyebutkan fakta yang berlawanan yang ada dan muncul pada masyarakat itu sendiri.

“dalam kenyataannya beberapa dari padanya [nama atau jenis hantu local] menunjukkan petanda peminjaman dari sumber-sumber Eropa; jrangkong, yang berupa kerangka manusia ‘tanpa daging’; wedon, makhluk halus dalam bungkus kain putih yang di Barat disebut ghosts” (hal. 21)

“pada suatu hari, di seputar daerah seberang jalan tempat saya tinggal, seorang anak telah hilang dan orang menduga ia telah diculik gendruwo. Lalu orang pun pergi kesana kemari membuat suara gaduh yang riuh. Ternyata anak itu membonceng kendaraan ke kota lain dekat daerah itu dan sama sekali bukan diculik makhluk halus” (hal. 22).

Pada bab selanjutnya (3), Geertz menjelaskan Siklus Slametan yang meliputi petungan dan Biaya slametan. Disini Geerts berusaha untuk mengkorelasikannya dengan tingkat kemampuan ekonomi masyarakat Abangan dan terlihat menolak kamparasi mata uang Indonesia dengan mata uang asing secara buta. Menurutnya, komparasi mata uang harus dikaitkan dengan konteks masyarakatnya. Dengan memunculkan beberapa alasan, kemudian Geertz menyatakan perbandingan mata uang Indonesia dengan Dollar Amerika 1 berbanding 3, meski ia juga menyatakan bahwa komparasi ini bukanlah bersifat ketat.(hal. 45-47); (4) Siklus Slametan Kelahiran yang meliputi Tingkeban, Babaran, Pasaran, dan Pitonan; (5) Siklus Slametan Khitanan dan Perkawinan yang meliputi upacara Sunatan, Kepanggihan, serta menjelaskan tentang kaitannya dengan aspek social dan ekonomi atas keduanya; (6) Siklus Slametan Kematian. Disini Geertz menjelaskan tentang Pemakaman, Layatan, Kepercayaan Masyarakat Abangan atas kematian dan juga biaya yang melingkupinya. Menurut Geertz, kedua siklus slametan terakhir ini merupakan slametan yang mengharuskan sang empu Hajat mengeluarkan banyak biaya, sehingga sering diundur waktunya menanti mereka mempunyai cukup uang. Pada umumnya, di Mojokuto, acara itu dilakukan pada masa pasca-panen; (7) Siklus Slametan menurut Penanggalan dan juga tentang Slametan Bersih Desa yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat desa setempat dan Slametan selingan; (8) bab yang menjelaskan tentang Pengobatan, sihir, dan magis. Pada bab ini diulas terkait varian-varian dukun, teori penyakit dan pengobatannya, teknik serta metode pengobatan primer dan sekunder [obat-obatan Barat], dan tenung [magic]; dan bab terakhir (9) Geertz membahas tentang suatu kultus masyarakat abangan Modern.

Perlu dikatakan disini bahwa dalam penelitiannya Geertz menggunakan data-data dari apa yang dikatakan dan menurut pandangan masyarakat ‘diteliti’, meski dibeberapa tempat Geertz terlihat memunculkan penafsirannya sebagaimana dijelaskan di atas. Selain itu, Geertz juga mengikuti atau masuk dalam prosesi ritual-ritual dan memasukkan kutipan-kutipan wawancara dari masyarakat setempat [informan] pada karyanya tersebut. Sehingga dengan ini Geertz tidak hanya mendiskripsikan ritual-ritual itu secara dangkal, namun lebih dari itu hingga menyentuh maksud dan makna bagi pelaku.

  1. C. Kajian Metodologis

Berdasarkan pada uraian singkat di atas dan pengamatan penulis atas karya Geertz tersebut secara global bisa dikatakan bahwa Geertz menggunakan metode penelitian Partisipatif dan pendekatan Antropologi-interpretatif. Model penelitian partisipatif-nya ditunjukkan pada upaya Geertz untuk ikut dalam prosesi ritual-ritual, penguasaan Bahasa subjek ‘diteliti’ dan tinggal lama selama 6 tahun bersama subjek ‘diteliti’. Sementara pendekatan Antropologi-interpretatif diperlihatkan oleh usaha Geertz untuk melihat fakta dari pandangan subjek ‘diteliti’ (point of native’s view) meskipun ia juga berusaha untuk ‘menafsirkan’. Yang terakhir ini sejalan dengan apa yang pernah dinyatakannya tentang hubungan insider-outsider atau lebih tepatnya hubungan subjek ‘peneliti’ dan subjek ‘diteliti’. Menurutnya, outsider dalam proses interpretasi harus melakukan emphatic atau masuk kedalam pengalaman dan psikologis insider. Meskipun demikian, menurut Geertz outsider tidak akan mampu mendapatkan apa yang sebenarnya ada pada benak insider, namun setidaknya mendekati. Dengan ini Geertz memunculkan istilah experience-near (pengalaman yang dialami oleh subjek ‘diteliti’) dan experience-distant (pengalaman dan interpretasi subjek ‘peneliti’).[2] Dengan ini, maka hasil kajian akhirnya bukan bersifat ‘objektif- absolut’, namun ‘objektif-subjektif’.

Kemudian, dengan model kajian yang mengaitkan dengan kontekas sosio-historis subjek ‘diteliti’, ikut serta di dalamnya, tanpa mengabaikan point of native’s view serta menggunakan pendekatan interpretative dalam membangun teori dan penelitiannya, maka Geertz melakukan model kajian diskriptif yang dalam, bukannya diskripsi yang dangkal-serampangan. Inilah kiranya yang ia maksud dalam salah satu karyanya dengan istilah Thick Description (penggambaran yang tebal atau dalam).[3]

Selanjutnya, dengan keengganan Geertz untuk mengaitkan atau mengkaji benar-salah-nya keyakinan varian-varian tersebut menurut sumber-sumber Islam ‘otentik’ dan memfokuskan pada varian perwujudannya, maka hal ini menunjukkan bahwa ia lebih memilih pendapat yang menyatakan bahwa ‘agama adalah produk budaya’, dan hal ini juga pernah diutarakan dalam salah satu karyanya.[4]

  1. D. Kesimpulan

Dari kajian-kajian di atas maka bisa disimpulkan bahwa karya Geertz ini, The Religion of Java, ia lakukan di wilayah Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur pada tahun 1950-an selama 6 tahun. Dan karya ini, membahas tentang varian perwujudan masyarakat Mojokuto (Pare) dalam memamami atau mempraktekkan keyakinan Islam-nya. Disitu, berdasarkan struktur social dan lingkungannya, dijelaskan terdapat tiga varian perwujudan, yakni Abangan,Santri dan Priyayi.

Kemudian terkait metode dan pendekatan yang digunakan Geertz ialah metode penelitian Partisipatif dan pendekatan Antropologi-interpretatif. Dalam interpretative dia menggunakan emphatic-objective yang ia istilahkan sendiri dengan experience-near dan experience-distant. Lalu dalam penjabarannya -dengan model kajian yang mengaitkan dengan kontekas sosio-historis subjek ‘diteliti’, ikut serta di dalamnya, tanpa mengabaikan point of native’s view serta menggunakan pendekatan interpretative dalam membangun teori- ia menggunakan teori Thick Description, yakni sebuah penggambaran tebal dan dalam hingga menyentuh maksud dan makna ‘objek diteliti’ bagi subjek ‘diteliti’.

Refrensi

Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1981.

————-, “ Thick Description: Toward an Interpretive Theory of Culture” dalam The Interpretation of Cultures, New York: Basic Books, 1973.

——————–, “ Religion As a Cultural System” dalam The Interpretation of Cultures, New York: Basic Books, 1973.

————-, From the Native’s Point of View: On the Natural of Anthropological Understanding.

Ricjkevorsel, L. Van, Babad Tanah Jawa terj. Aly Mashar, Kediri: LP3M Press, 2009.


[1] L. Van Ricjkevorsel, Babad Tanah Jawa terj. Aly Mashar, (Kediri: LP3M Press, 2009), hlm. 51-54.

[2] Clifford Geertz, From the Native’s Point of View: On the Natural of Anthropological Understanding, hlm. 51

[3] Clifford Geertz, “ Thick Description: Toward an Interpretive Theory of Culture” dalam The Interpretation of Cultures, (New York: Basic Books, 1973), hlm. 3-6.

[4] Clifford Geertz, “ Religion As a Cultural System” dalam The Interpretation of Cultures, (New York: Basic Books, 1973), hlm. 84-90.

Published in: on Mei 30, 2010 at 8:20 am  Comments (3)  

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2010/05/30/study-of-clifford-geertz%e2%80%99s-work-the-religion-of-java-melacak-metodologi-kerja-geertz/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. yang saya tahu sebagai peneliti kita harus mengikuti etika bahwa nama tempat/orang-orang yang menjadi kajian penelitian kita harus disamarkan,dan hal itulah yang dlakukan oleh Geertz.

    • iya itu jika objek yang diteliti memang perlu disamarkan (karena kode etik jurnalistik), misalnya korban pemerkosaan dan lain-lain. namun, dalam konteks penelitian Gertz ini bisa memberi kesan bahwa Gertz ingin mengkoloni atau lebih mudahnya generalisasi, dari hanya “Pare” menjadi “seluruh Jawa”. seharusnya, judul buku Gertz bukan “The Religion of Java”, namun “The Religion of Pare”. wallahu a’lam bil showab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: