AGAMA DAN RASIO PRAKTIS PERSPEKTIF AL-FARABI (Kajian Paul E. Walker)

Oleh: Aly Mashar Abdel Hanan

 

 

  1. A. Pendahuluan

Konflik antara filsafat dan agama tidak muncul pada masa permulaan Islam, sebab ketika itu filsafat tidak dikenal dalam wilayah Arab, tempat dimana Nabi Muhammad Saw memulai misinya untuk menyebarkan Islam. Filsafat baru berkembang pesat di seluruh wilayah Islam, meski tidak sama tingkatnya, pada awal abad ke-4 atau ke-5 Hijriyah. Namun, karena terdapat salah satu filosof utama menyangkal keistimewaan para Nabi dan Ajaran Agama, maka banyak ulama yang menentang dan menolaknya. Oleh sebab itu, hanya sedikit Sarjana yang menerima atau menguasai filsafat secara penuh.

Sebagai sikap hati-hati, para Ulama memisahkan filsafat dari agama dengan cara memberi ‘label’ padanya sebagai ‘ilmu asing atau non-Islam’ yang dikontraskan dengan ‘ilmu Islam’. Umumnya, yang dikategorikan sebagai ilmu non—islam ialah fisika, matematika, metafisik, dan logika yang kesemuanya baru muncul ketika orang Arab mempunyai kontak dengan Yunani dan daerah luar Arab lainnya. Sementara ilmu Islam adalah bahasa, gramatikal, dan berbagai ragam doktrin dan teknik resmi untuk mengkaji dan menafsirkan tradisi keagamaan. Kedua label ini ditempatkan pada posisi ‘antagonistik’ dan berimplikasi pada sikap antar keduanya lebih lanjut, yakni para ulama ‘pro-ilmu Islam’ terus-menerus melontarkan penolakan dan pemfitnahan kepada filsafat sementara ‘Pro filsafat [non-Islam]’ sedikit atau bahkan tidak menggunakan dasar syari’at dan Kitab suci agama sama sekali. Meski demikian, lambat laun cara berfikir filosofis diterima oleh para mikir muslim. Sebab, para pendukung filsafat –dari pengalaman filsafatnya- lambat laun berubah mengakui pentingnya peran agama dalam masyarakat. Proses penerimaan ini kemudian berimplikasi pada masuknya agama ke dalam kajian filosofis. Salah satu hasil dari proses ini dalam wilayah Islam muncul ‘filsafat agama’.

Pendiri ‘filsafat agama’ ini yang paling terkemuka pada abad 10 M ialah Abu Nasr al-Farabi (w. 950 M). Prestasinya dalam penguasaan bidang-bidang filsafat melebihi tokoh sebelumnya di dunia Arab. Selain menguasai beberapa bidang filsafat dengan mudah, ia juga menguasai dan mengapresiasi agama.  Murid-muridnya antara lain ialah Ibn Rusydi, Ibn Tufayl, Ibn Sina, dan Maimondes. Menurut murid-muridnya ini, al-Farabi adalah tokoh terkemuka sejak pasca Aristoteles.

Selain itu, dalam kurun seribu tahun lebih, al-Farabi adalah tokoh pertama yang berusaha menghidupkan kembali filsafat politik. Ini karena ia memunculkan pandangan baru atasnya, yakni dasar filsafat politik dan agama adalah sama. Problem keagamaan yang di hadapi oleh al-Farabi sedikit berbeda dengan Plato. Al-Farabi tidak hanya menghadapi tekanan kebudayaan secara besar-besaran yang tidak melulu agama Islam, namun juga rangkaian agama dan para Nabi Semit yang telah bertanggung jawab pada masanya masing-masing. Oleh karena itu, dalam pemahaman filsafat politiknya al-Farabi memasukkan peran penting para Nabi, baik Nabi masanya [Muhammad, pen] atau nabi-nabi terdahulu.

Sebagaimana kebanyakan pewaris tradisi filsafat Aristoteles, al-Farobi dalam keilmuan bersendikan pada perbedaan antara rasio teoritis dan praktis. Rasio Teoritis adalah rasio yang menghasilkan ilmu-ilmu teoris, yakni ilmu yang ditujukan untuk pengetahuan saja. Sementara rasio praktis ialah rasio yang menghasilkan ilmu-ilmu praktis pula, yakni ilmu yang ditujukan pada suatu tindakan (praxis) atau ilmu [rasio] yang memberikan akibat pada suatu tindakan. Pembedaan ini berbeda dengan pembedaan keilmuan Arab, yakni antara ‘asing’ dan ‘lokal’ atau ‘islam’ dan ‘non-islam’.

Namun demikian, bukan berarti al-Farabi tanpa melakukan kritik atas pembedaan ala-Aristoteles tersebut. Selain dua pembedaan tersebut, al-Farabi membedakan antara rasio teoritis sebagai ‘ilmu demonstratif’ dan ilmu atau metode berfikir yang  memproduksi ‘pendapat dan keyakinan’ semata. Dua hal terakhir ini menurut al-Farabi ialah murni ‘praktis’, bukannya ‘teoritis’. Jadi, pandangan-pandangan keagamaan tentang Tuhan dan semua elemen keimanan tidak lain ialah bagian dari rasio praktis, sejauh kesemuanya itu menuju pada tujuan yang mensyaratkan ‘aktifitas’. Namun, menurut Walker semua contoh tersebut adalah ‘aplikasi praktis’ dari ‘rasio teoritis’, bukannya rasio praktis itu sendiri.

Literature-literatur tentang al-Farabi yang tersedia baru  muncul pada beberapa tahun terakhir, sehingga interpretasi atas ide-idenya selalu berubah-ubah. Hal ini bukanlah hal baru, sebab para Author abad pertengahan yang mengkaji ide-ide al-Farabi juga mengalami hal yang sama, yakni muncul beberapa macam interpretasi atasnya. Karena bahan-bahan yang tersedia tidak diatur oleh pengaranya secara sistematis, dan guna menghindari jatuh pada kebingungan dan kerancuan yang tidak menentu, kajian ini oleh Walker dibatasi dengan pertanyaan-pertanyaan kunci dan kemudian dikembangkan dengan berdasar pemikiran tujuan khusus. Gagasan al-Farabi tentang apa yang membentuk rasio praktis dan teoritis sangatlah penting, dan kebetulan hal itu tersebar luas dalam karya-karyanya, jadi sedikit mudah untuk memahaminya. Namun gagasan lainnya membutuhkan penjelasan lebih lanjut dan harus didekati dengan agak eliptik. Selain itu, karena para kesarjanaan modern belum mengkaji al-Farabi secara penuh dan juga karena karya-karya al-Farabi berbahasa Arab baru diterbitkan pertama kali pada tiga decade lalu, maka kajian kritis sumber –meski penting- hanya akan bergulat dengan gunung data yang menghasilkan sedikit kesimpulan. Oleh karena itu, dari pada memusatkan perhatian pada pemeriksaan kata demi kata al-Farabi sendiri, menurut Walker akan lebih baik jika memahami dengan sederhana dan langsung pada tema-tema utama yang memberikan kontribusi pada filsafat agama al-Farabi. Dengan ini, kita akan menggali dan mendapatkan kesimpulan-kesimpulan baru dan tidak sedikit.

Berdasarkan pada dasar pemikiran dan pertimbangan di atas, kemudian Walker membagi kajiannya ini menjadi beberapa sub-tema, yakni (1) pertemuan Muhammad dan Aristoteles; (2) Filsafat rasio praktis; (3) Sejarah agama; dan (4) Tempat rasio praktis. Untuk lebih jelasnya sebagaimana uraian berikut.

  1. B. Pertemuan Muhammad dan Aristoteles

Pada sub tema ini, Walker mencoba untuk mengkaji bagaimana al-Farabi menghubungkan antara agama dan filsafat yang kemudian menjadi dasar teori filsafat agamanya. Hal ini ia fokuskan pada konfrontasi yang dilakukan al-Farabi atas Muhammad dan Aristoteles. Selain itu, Walker juga mencoba mengkaji rasio dan tujuan apa yang bermain dan ada dibalik konfrontasi tersebut.

Konfrontasi antara Nabi Arab [Muhammad] dan Aristoteles diutarakan secara jelas dalam kajian al-Farabi tentang ‘Filosof-Nabi Tertinggi’. Disitu Muhammad merepresentasikan ‘agama’ sementara Aristoteles merepresentasikan ‘filsafat’. Dengan ini, sekilas, al-Farabi berusaha untuk mengawinkan antara keduanya dan menunjukkan pada khalayak umum bahwa hubungan yang terjadi agama dan filsafat bukanlah hubungan konflik, namun mutual-harmonis.

Sebagaimana di atas, al-Farabi telah menyandingkan Muhammad dan Aristoteles untuk membangun filsafat agamanya. Kemudian, dalam awal kajian atasnya, Walker melontarkan pertanyaan: “Apakah Muhammad dan Aristoteles tersebut bertemu secara equal?” Sudah menjadi pemahaman umum bahwa Aristoteles adalah seorang filosof serta tidak diketahui menciptakan sebuah agama tertentu, sementara Muhammad –dianggap- sebagai pembawa Syari’at [lawgiver] agama yang tidak pernah bersentuhan dengan filsafat. Sedangkan, jika ‘equal’ seharusnya keduanya adalah sama-sama berprofesi sebagai filosof atau sama-sama sebagai lawgiver. Singkatnya, secara pemahaman yang dangkal dalam realitanya kedua tokoh tersebut sangat berbeda. Melihat problematika seperti ini, al-Farabi menjelaskan bahwa ada kemungkinan lain, yakni adanya hubungan antara agama dan filsafat serta kedua tokoh tersebut menguasai atau ahli dalam kedunya, meskipun dalam realitanya mereka satu sama lain lebih memfokuskan kajiannya pada salah satu di antaranya.

Jika usulan al-Farabi itu diterima, pertemuan equal antara Muhammad dan Aristoteles, maka keduanyapun juga memiliki kemampuan yang sama –atau setidaknya hamper mirip- dalam ‘rasio teoritis’. Menurut al-Farabi, kecocokan atau komunikasi antara kedua tokoh ini lepas dari batas waktu, bahasa, maupun geografis. Mereka berkomunikasi melalui logika, sebab komunikasi teoritis bertempat dalam logika, bukan praktis.

Menurut al-Farabi, baik Muhammad maupun Aristoteles, mempunyai batas-batasan dalam rasio teoritis. Mereka lebih bersandar pada tingkat metode-metode dialektis –daripada apodiktis- pada area-area komunikasi yang tidak sepenuhnya setuju dengan yang terakhir. Metode-metode ini tidak sepenuhnya teoritis, meskipun mereka erat dengannya. Tujuan penggunaan metode dialektis ini adalah menjadikannya sebagai pembantu untuk mencapai tujuan akhir yang pasti dan consensus, yaitu untuk sampai pada pengetahuan teoritis yang benar. Rasio komparatif adalah selalu dialektis, namun dialektis akan mampu menuntun pada demonstrative yang tepat. Singkatnya, secara alami pertukaran informasi antara Muhammad dan Aristoteles dalam tataran teoritis tidak sedikit berbeda, atau bahkan sama.

Kemudian, karena pengetahuan teoritis hanya ditemukan dalam pada para filosof [tidak akan mendapat pengetahuan yang equivalent jika sedikit atau bahkan tidak dengan latihan], maka menurut al-Farabi -berdasarkan pada uraian di atas dan penegasannya tentang lawgiver merupakan para pendiri agama- Muhammad adalah juga seorang filosof yang tinggi. Dari sini, maka muncul pertanyaan penting tentang sebaliknya, yakni :”apakah al-Farabi juga menganggap Aristoteles sebagai nabi dan pembuat agama sebagaimana Muhammad?”. Menurut keyakinan al-Farabi, semua filosof dan nabi yang benar mempunyai kemampuan itu, meskipun mereka tidak mendapatkannya [tingkat kenabian, pen].

Kemudian, dengan mengambil kesimpulan dari pernyataan al-Farabi tentang filosof-kenabian, Walker mencoba untuk membawa konsep tersebut pada wilayah yang lebih luas [tidak hanya antara Muhammad dan Aristoteles] dengan melontarkan pertanyaan, “apakah seluruh pendiri intelektual besar dan para imam mempunyai status filosofis yang sama?”. Kiranya, jika Muhammad dan Aristoteles berpartisipasi pada bentuk rasio yang identik sama, maka semua pemikir besar lain pastinya juga bisa diidentikkan pada mereka. Lalu al-Farabi menjawabnya “ ide tentang imam, filosof, dan pembuat hokum adalah ide yang satu atau satu ide [sama]”. Lebih lanjut lagi al-Farabi menyatakan “sudah jelas bagi kamu bahwa ide tentang filosof, penguasa tertinggi, pangeran, pembuat hokum, dan imam merupakan satu ide”. Dengan berdasar pada kedua pernyataan ini maka jawaban pertanyaan di atas ialah para pendiri intelektual besar dan iman mempunyai status filosofis yang sama.

Jawaban al-Farabi atas dua pertanyaan terakhir di atas, sebenarnya ialah perluasan dari keyakinan umat muslim kebanyakan tentang para nabi sebelum Nabi Muhammad. Menurut mereka ajaran para nabi tersebut sesuai dengan ajaran Muhammad, Islam, meski dengan bentuk syari’at yang berbeda. Kemudian, para pemikir muslim memperluas konsep ini dengan memasukkannya para nabi diluar Semit, semisal Persia dan India. Posisi al-Farabi melampaui para pemikir tersebut, ia lebih memperluasnya kembali, yakni memasukkan para pemikir besar innovator dan filosof seperti Aristeles dan Plato sebagai lawgiver (orang yang menciptakan hukum baik kemudian yang berbentuk aturan agama maupun moral).

Jika Muhammad dan Aristoteles mampu berkomunikasi pada basis rasio teoritis, kemudian apa yang dikatakan oleh masing-masing mereka atas agama Muhammad? Dapatkah Aristoteles memahami dan menerima apa yang telah dibuat oleh Muhammad? Bagi kebanyakan muslim mengalami kesulitan untuk menjawabnya. Jika didesak untuk menjawab, mereka akan berargumentasi bahwa jika Aristoteles hidup pada masa Islam, dia akan menerimanya. Namun al-Farabi tidak begitu, dia menyatakan bahwa Aristoteles, sebagai seorang Yunani, non-Arab dan berkebudayaan agama non-Islam, kemungkinan besar dia tidak akan menemukan alasan yang menolak tradisinya dalam Islam. Kemudian pertanyaannya kembali ialah bukankah Aristoteles tidak membentuk ajaran agama tertentu? Al-Farabi melihat persamaan keduanya bukan dengan perspektif rasio praktis, namun perspektif teoritis spekulatif. Lebih lanjut, al-Farabi menyatakan bahwa hal itu menunjukkan adanya keahlian khusus yang dimiliki oleh Muhammad. Muhammad mampu memformulasikan teorinya dalam sebuah agama sementara Aristoteles tidak, entah karena tidak mampu atau memang tidak berkeinginan untuk itu. Aristoteles Cuma bermain dalam rasio Teoritis, sementara Muhammad melanjutkannya pada tataran aplikasi dari pengetahuan teoritis tersebut. Al-Farabi menyebut keahlian Muhammad ini dengan practical application of reason (aplikasi praktis rasio).

Agama Muhammad, bertentangan dengan teori Aristoteles, muncul dalam merespon kepelikan kebudayaan dari waktu, tempat dan suku dimana dia hidup. Oleh Karena itu, ia harus berupa praktis, bukan teoritis. Sebab peran agama ialah normative dan menjelaskan; menuntun manusia menuju kebahagiaan hidup, baik untuk individu maupun sosial.

Meskipun al-Farabi cenderung memahami agama dalam tipikal hukum Islam (Syari’ah), namun menurutnya hukum-hukum tersebut eksis karena dibentuk oleh lawgiver. Semua agama asal-mulanya didirikan oleh seorang nabi-pembuat hukum yang muncul dalam sebuah konteks kebudayaan yang spesifik. Jadi disini bukan bermaksud untuk mengunggulkan Islam dari agama lain. Namun sebaliknya, dia ingin mensejajarkan semua agama. Dia mengambil contoh Islam dan Muhammad, selain karena dirinya seorang muslim juga karena Islam dan Muhammad ia anggap wakil yang paling sempurna. Menurutnya Agama Muhammad meliputi sebuah deskripsi yang komplit tentang kosmos, penciptaan, Tuhan, dan semua hal yang bersifat ketuhanan. Hal ini sesuai dengan konsep agama yang dia rumuskan, yakni agama tidak hanya mencangkup hal-hal teoritis, namun juga tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan nyata. Oleh karena itu agama lebih bersifat praktis dari pada teoritis. Sebab hal teoritis tersebut harus diejawantahkan pada tataran praktis. Untuk hal itu Muhammad mendeskripsikannya dengan menggunakan metode retorik atau puitik. Bahasa mudahnya, Muhammad menggambarkan teori yang bersifat abstrak tersebut pada hal-hal konkrit-tindakan yang bisa dicerna dan dilakukan oleh manusia umum.

Kesimpulannya, pendekatan al-Farabi atas teori umum tentang agama bukan memulai dengan Muhammad atau agamanya, namun lebih pada dengan pembedaan antara rasio teoritis dan praktis. Meskipun pertemuan Muhammad dan Aristoteles digunakan untuk menjelaskan tentang keharmonisan hubungan antara filsafat dan agama, namun tidak perlu menunjukkan bagaimana kedua tokoh tersebut dihubungkan secara filosofis. Kemudian apa rasio praktis menurut al-Farabi?; Apa hubungan antara wacana teoritis dan praktis?; Dan bagaimana hubungan ini membentuk agama-agama? Akan dijelaskan selanjutnya

 

  1. C. Filsafat Rasio Praktis

Menurut al-Farabi perbedaan dasar antara rasio teortis dan praktis adalah bahwa pembentuk yang menyangkut pengetahuan tentang sesuatu atau makhluk yang tidak dapat kita membuat atau merubahnya, sementara yang terahir adalah sebuah sumber pengetahuan tentang objek-objek dan peristiwa-peristiwa yang keberadaannya tergantung pada keinginan manusia. Misalnya, rasio teoritis menyelidiki prinsip-prinsip matematika secara abstrak tanpa kualifikasi; rasio praktis mengaplikasikan aturan-aturan tersebut pada tindakan, yang dibuat atau di manipulasi oleh seni dan keinginan manusia. Pengetahuan tentang apa yang teoritis, dalam pengertian ini, dapat di akumulasi semata dari pengalaman ekstensif dan penafsiran tentang apa yang secara praktis terpikir. Jadi penalaran yang dirinya tidak berakar pada teoritis dapat menuntun pada pemahaman teoritis, karena terdapat sebuah hubungan antara dua bentuk penalaran, meskipun tidak perlu tergantung pada preoritas temporal pengalaman praktis yang dalam faktanya dapat menelurkan kesimpulan-kesimpulan yang salah.

Pertimbangan yang mendalam memproduksi generalisasi baik melalui kemampuan rasio maupun operasi imajinasi. Sebuah keputusan yang di hasilkan dari pengamatan sesuatu yang bersifat particular menuju kesimpulan yang bersifat universal. Universalitas tersebut hanya mampu dipahami secara retoris atau puitis, dan jadi semata merepresentasikan sebuah perumpamaan imajinasi tentang objek atau prinsip actual yang dapat dimengerti. Pada penalaran teoritis yang benar, prinsip-prinsip intruksi dan komunikasi adalah sama seperti prinsip-prinsip tentang makhluk. Sebaliknya mode pemikiran praktis yang benar, prinsip-prinsip tentang makhluk perlu dipisahkan dari metode-metode atau prinsip-prinsip intruksi dan komunikasi.

Menurut al-Farabi, pengetahuan teoritis adalah pengetahuan utama dan mempunyai kapasitas penalaran demonstratif. Kemudian aplikasi atas pengetahuan teoritis adalah un-demonstratif dan merupakan bentuk penalaran kedua [skunder]. Untuk memahami ini Walker memberikan contoh; bahwa pernyataan-pernyataan tentang surga-surga dan hokum-hukum fisik tidak akan berubah-ubah menurut harapan-harapan manusia, namun bagaimana manusia itu memahami tentang apa yang pernyataan-pernyataan atau hokum-hukum itu lakukan.

Filsafat menurut pemahaman al-Farabi adalah semata sebuah kesempurnaan teoritis dan kepastian demonstrative. Seni dan ilmu demonstrative menurutnya sangat bergengsi dan superior. Kemudian filsafat seakan nampak menghilangkan rasio praktis. Jika begitu, lalu bagaimana dia dapat mengkoneksikannya dengan variable particular segala sesuatu yang fakultatif?. Bagi al-Farabi, untuk sampai pada tujuan teoritis filosof, seseorang menemukan bahwa kegunaan pengetahuan teoritis dan karena itu kuasa teoritis memberikan dorongan dan cara-cara untuk mencapai kebahagiaan terakhir. Ketika seseorang mencari kesempurnaan dan kepastian terakhir tersebut, terdapat dua hasil yang beringingan; pertama, gagal mencapai kepastian atas semua problem dan oleh karena itu kebingungan antara bagian yang pasti dan hanya mungkin berhenti pada tataran pendapat dan keyakinan; kedua, kebutuhan [disiratkan oleh kesempurnaan itu sendiri] atas realisasi, yakni mewujudkannya pada tindakan nyata. Menurt al-Farabi, untuk mencapai level sepenuhnya atas kesempurnaan ini, seseorang harus memanfaatkan makhluk alamiah lainnya. Jadi, untuk mencapai apakah kesempurnaan mungkin bagi masing-masing individu, seseorang harus bergaul dengan yang lain. Dari sini al-Farabi menyimpulkan, “sekarang disana muncul ilmu dan penyelidikan lain yang meneliti prinsip-prinsip keintelektualan itu dan tindakan-tindakan serta keadaan-keadaan karakter dengan mana seseorang bekerja menuju kesempurnaan”. Hal ini merupakan filsafat atau ilmu agama.

Bagi al-Farabi, kemampuan memperoleh teoritis yang dapat diterima, baik dari proses demonstrasi [ filsafat] atau imitasi [agama], adalah wahyu. Namun hal ini bersifat ekslusif atau tidak semua orang mampu mengaksesnya, sebab ini bersifat murni intelektual. Orang bisaa hanya mampu mengakses kategori ‘imitasi’. Imitasi, menurut al-Farabi, selalu terikat oleh tempat dan waktu, sehingga melahirkan bentuk-bentuk yang berbeda sesuai dengan waktu dan tempatnya. Jadi, setiap Negara, daerah dan kebudayaan mempunyai bentuk agamanya sendiri-sendiri mengikuti instruktur lawgiver [seseorang yang memiliki kemampuan membuat contoh-contoh khusus dari teori abstraknya sesuai tempat atau negaranya] yang tidak lain ialah filosof-nabi.

Menurut keyakinan al-Farabi, agama adalah lebih daripada imitasi dari filsafat semata; ia adalah kesempurnaan sebuah praktis, kebajikan yang disengaja, dan syarat aksi. Dengan ini maka filsafat agama menjadi sebuah ilmu tentang metode retoris dan puitis, kekuatan untuk meyakinkan, menanam kebajikan, dan menanamkan cara-cara mencapai kebahagiaan yang mungkin bagi masing-masing masyarakat setiap Negara. Hal ini mengindikasikan bahwa lawgiver merupakan orang yang menguasai kedua metode teoritis tersebut. Dalam arti, mereka menguasai ilmu yang dibangun oleh metode demonstrative dan sekaligus cara bagaimana hal itu mungkin diimplementasikan secara praktis.

Untuk mengevaluasi atau mengukur kebenaran penalaran tersebut, al-Farabi menggunakan ukuran tujuan ‘kebahagiaan’. Jika hasil penalaran itu sesui dengan tujuan akhir ini maka ia benar, namun jika sebaliknya ia-pun salah.

  1. D. Sejarah Agama

Karena al-Farabi dalam menjelaskan hubungan antara alat atau alur pemunculan agama dan filsafat menggunakan latar historis, maka pada sub-bab ini Walker mencoba untuk menjelaskan sejarah agama.

Menurut al-Farabi, perkembangan agama mengikuti perkembangan filsafat. Perkembangan tersebut dia jelaskan dengan beberapa tahapan filsafat. Pertama, filsafat berawal dari keinginan manusia untuk mengetahui sebab-sebab sesuatu. Pada tahap ini mereka menggunakan metode retoris. Kedua, tahap aplikasi dialektis. Hal ini dihasilkan dari penggunaan terus-menerus metode retoris dan pengadaan penyelidikan lanjutan pada kepastian yang lebih besar yang akhirnya menuntun pada penemuan metode-metode dialektik. Ketiga, karena realisasi secara gradual metode dialektis tersebut kurang memadai, maka munculah tahap yang ketiga ini. Tahap ini menuntun pada penyelesaian filsafat dengan menambahkan demonstrasi. Meski demikian, demonstrasi di sini tetap digabungkan dengan dialektik, misalnya kerja-kerja politik dan keagamaan. Menurut al-Farabi Plato masuk pada tahap ini. Keempat, tahap ini investigasi keilmuan sudah lengkap, yakni filsafat Teoritis dan Praktis. Langkah yang tersisa ialah isu-isu hukum yang sesuai dengan filsafat yang benar. Pada tahap ini, pengetahuan tentang metode-metode rasio praktis begitu kuat berakar pada isu-isu hukum tersebut yang hasil akhirnya ialah ajaran agama yang sempurna. Dalam hukum-hukum ajaran agama yang sempurna tersebut secara akurat dapat mencerminkan hal-hal yang ditemukan oleh demontrasi dan kerja praktis yang dibedakan melalui kehati-hatian.

Dari uraian di atas, maka bisa dipahami bahwa setiap tahap tersebut memproduksi agama sesuai filsafat yang tersedia pada masing-masing tingkat. Namun, agama yang benar ialah agama yang didasarkan pada filsafat yang sempurna.

Pola historis di atas, rupanya juga dipalikasikan oleh al-Farabi terhadap agama Muhammad. Dengan begitu, ia telah membawa agama Muhammad kepada masa ketika kesempurnaan filsafat Aristoteles secara real terbentuk. Namun problemnya ialah, sebagaimana diketahui, bahwa agama Muhammad muncul sebelum istilah filsafat dikenal dalam budaya suku Arab. Menghadapi soal ini al-Farabi menyatakan bahwa situasi Muhammad yang sangat kompleks menampakkan adanya kemungkinan transfer filsafat atau agama dari satu negara ke negara lain. Menurut al-Farabi, ada kemungkinan Muhammad pergi ke luar daerahnya untuk mempelajari filsafat atau agama lain dan kemudian membuat agamanya sendiri ketika dia kembali pada kaumnya.

Muhammad dan Aristoteles adalah sama-sama filosof, meskipun al-Farabi menyatakan bahwa Muhammad lebih unggul karena dia mampu mendadani sebuah agama yang berdasarkan pada filsafat yang sempurna dan benar. Kemudian, karena suku-suku Arab tidak mampu mengakses hal-hal bastrak-filosofis, maka dia menyampaikan keseluruhan filsafatnya dalam puitis dan retoris yang menghasilkan perumpamaan-perumpamaan. Namun, menurut al-Farabi, Muhammad gagal dalam memberikan kepahaman bahwa agama mereka ialah berdasarkan pada filosofis. Akibatnya, umat muslim menerimanya sebagai keyakinan serta mempunyai kesimpulan bahwa simbol-simbol dan mitos-mitos agama mereka adalah benar dari dan dalam dirinya sendiri.

Karena setiap agama berasal mula dari filsafat, menurut al-Farabi idealnya para filosof memainkan peran sebagai monitor atas bagaimana baiknya agama partikular masing-masing mematuhi sumber-sumber teoritis. Selain itu, para filosof juga harus memahami aplikasi-aplikasi praktis rasio dan memiliki kemampuan untuk menganalisis wacana-wacana keagamaan pada semua tingkat.

Konsep asal mula agama dari filsafat, tidak hanya ditujukan oleh al-farabi kepada Islam saja, namun juga kepada agama-agama lain. Sebab, para lawgiver dan filosof sama-masa membuat suatu aturan baik berbentuk agama maupun aturan moral bagi masing-masing masyarakatnya. Terkait apakah filosof juga mampu membuat agama?; apakah posisi antara nabi dan filosof sama?; Dan apa pendapat al-Farabi atas agama-agama sudah penulis jelaskan pada sub-bab sebelumnya.

  1. E. Ruang Rasio Praktis

Pada sub-bab ini sebenaranya berisi beberapa pendapat Paul E. Walker atas pemikiran al-Farabi. Ada kalanya pendapat Walker tersebut menguatkan pendapat al-Farabi dan ada kalanya mengkritiknya.

Menurut Walker, banyak filosof –baik Barat maupun Musli  seperti ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan al-Ghazali- yang salah faham terhadap pemikiran al-Farabi. Dengan ini, maka banyak yang meninggalkan pengkajian atasnya, bahkan ini juga terjadi dalam umat muslim sendiri. Menurut Walker, hal ini terjadi karena para filosof mengharapkan suatu filsafat yang menghasilakan suatu kepastian di akhir penyelidikannya, dan hal ini tidak diketemukan di dalam al-Farabi.  Sebab, dalam penyelidikan yang al-Farabi lakukan, langkah terakhirnya tetap terbuka dari pada tertutup, ambigu, dan bersifat tentative daripada final dan tetap. Di samping itu, dalam penyelidikannya juga tidak terdapat penutupan argument, tidak ada kesimpulan yang tepat, tidak ada solusi yang pasti, dan apa yang paling penting, tidak ada penegasan atas kepastian absolute. Problem lawgiver keagamaan adalah sebuah contoh penting dari salah satu kesimpulan belum selesai al-Farabi dan contoh dari sebuah hasil ambigu –tidak pernah selesai- yang selalu membingungkan dan mendesak kepada kita untuk memunculkan penafsiran baru.

Kemudian, terkait pendapat al-Farabi tentang lawgiver dan filosof-nabi Walker berpendapat bahwa hal ini merupakan sesuatu yang ideal dan mustahil terwujud. Sebab, menurutnya, penggabungan yang sempurna dari rasio teoritis dan praktis dalam satu orang adalah sesuatu yang sungguh tidak akan ada, mungkin hanya Allah sendiri saja yang mampu. Nabi Muhammad, sebagiamana yang dijadikan contoh al-farabi, menurut Walker tidak memenuhi syarat sebagaimana yang ditetapkan oleh al-Farabi, sebab tidak diketahui fakta yang menguatkan bahwa Muhammad adalah seorang filosof yang tepat selain menjadi seorang nabi. Disisi lain, jika Aristoteles adalah filsafat yang sempurna dengan mencapai pemahaman tentang demontrasi, sebagaimana yang dijelaskan al-Farabi dengan jelas, pertanyaan lain muncul: apakah ada, atau pernahkah, secara tegas sebuah agama didasarkan pada hasilnya? Ternyata dalam realitanya tidak. Oleh karena itu, menurutnya, memberikan kehormatan yang sesuai merupakan hal yang lebih penting. Dalam arti, pemberian kehormatan secara terpisah dan pada porsi yang tepat baik kepada Aristoteles maupun Muhammad. Rasio teoritis dan rasio praktis yang sempurna tidaklah sama, dan karena itu personifikasi mereka pada dua individu yang berbeda atau dua agen (atau mungkin dua kepribadian dari satu agen) adalah abadi, baik dalam filsafat dan agama.

Hal yang membedakan antara Aristoteles dan Muhammad lainnya menurut Walker ialah jika jika seseorang mengkaji buku-buku Aristoteles dia akan bisa menjadi Arsitoteles, namun jia sesorang membaca al-Qur’an dia tidak akan menjadi replica Muhammad.

Apa yang dimaksudkan al-Farabi dengan semua spekulasi tentang lawgivers dan filosof-nabi ini, Walker percaya bahwa hal itu dimaksudkan untuk memaksa orang-orang yang memahami dilema ini untuk kembali ke akar-akarnya, kembali ke hubungan yang tidak menentu antara teori dan praktis, antara yang universal dan khusus, antara logika dan tata bahasa. Satu kunci adalah pendapatnya bahwa pada dasarnya wacana adalah praktis. Ia adalah aspek tindakan dan tidak per se setara dengan pemikiran. Seseorang tidak boleh berbeicara tentang wacana dan pemikiran abstrak seolah-olah mereka persis sama. Oleh karena itu, karena wacana adalah sarana yang baik tentang apa yang akan dia lihat sebagai rasio praktis –meskipun tidak berarti rasio itu sendiri- rasio teoritis benar-benar tidak memiliki sarana karena dia seperti itu atau jika dia mempunyai sarana itu maka dia menjadi praktis.

Tetapi, di sisi lain, apa yang sebenarnya rasio praktis ini? Apakah kehati-hatian, pertimbangan atas hal-hal khusus, dasar dari kemauan atau pilihan, atau diskursif sebagai lawan dari pemikiran deduktif? Menurut Walker Ini masih merupakan problem nyata bagi al-Farabi. Al-Farabi telah mengakui perbedaan antara pengetahuan teori dan praktek, dan kemudian telah mengidentifikasikan sesuatu yang dia pahami sebagai penalaran praktis, yang merupakan komponen mental dari yang terakhir. Akhirnya, dia menegaskan sebuah hubungan antara rasio teoritis dan praktis dalam rangka membangun minat filosofis yang terakhir, walaupun masih ada beberapa misteri tentang apa hubungan itu sebenarnya. Meski demikian, karena dia menghargai nabi, sebagai pencipta agama, untuk berdiri sebagai ahli penalaran praktis, dia juga mengakui luhur, meskipun mungkin tidak sepenuhnya dapat dipahami, posisi rasio praktis berlaku ketika dia berfungsi dengan sangat sempurna.

Jadi al-Farabi menekankan pada perbedaan antara wacana dan teori yang benar. Tentu saja aplikasi praktis dari teori apapun tidak hanya terbatas pada wacana, tetapi wacana adalah bidang utama dimana apa yang dimulai sebagai teori berubah menjadi praktek. Karena semua praktek memerlukan tindakan, maka ia pasti selalu khusus. Apalagi, perbandingan harus berupa perbandingan wacana, bukan teori, meskipun itu akan berfokus pada teori sebagai standarnya karena tanpa ada sebuah standar perbandingan tidak mungkin. Hal-hal khusus, sejauh mereka khusus, adalah unik dan maka tidak bisa dibandingkan. Oleh karena itu, rasio praktis saja dengan dirinya sendiri tidak akan mengizinkan perbandingan yang asli, karena dia selalu terisolasi dalam kepraktisanya. Hanya dengan berasal dari mereka apa yang secara teoritis umum untuk beberapa hal khusus dapat benar-benar dibandingkan.

Dalam penyelidikannya tentang wacana sebagai praktek, menurut Walker al-Farabi lebih suka melihat wacana melalui organon Aristotelian, walaupun secara ketat sebagai sebuah sarana diskursif bukan logika itu sendiri. Dengan berdasar ini maka puisi dan retorika jauh lebih efektif –lebih praktis- dari pada dialektika atau demonstrasi, yang lebih dekat pada rasio teoritis dan karena itu kurang praktis. Akan tetapi, menurut Walker, sebagai cara penalaran, masing-masing seni logika yang menghasilkan tingkat pengetahuan teoritis, puisi sangat rendah dan demonstrasi paling tinggi. Sebagai wacana, puisi dan retorika tertentu milik budaya dan tradisi. Dalam dialektika, wacana bergerak jauh dari dasar alaminya, dan dalam demonstrasi dia menjadi universal tanpa sebuah rujukan pada bahasa bisaa. Bagi Walker, dalam hal teori al-Farabi berpendapat sebaliknya, karena bagi dia disana pasti ada universal yang independent dari bahasa atau wacana yang dapat digunakan untuk mengungkapkannya. Inilah yang umum bagi semua wacana dan semua penalaran. Membandingkan contoh-contoh penalaran praktis atau hasil-hasilnya, entah puitis atau sebaliknya, tanpa sebuah standar analisis dan perbandingan, menurut Walker cenderung menghasilkan omong kosong. Dalam studi puisi, misalnya, para penyair dibatasi sejauh kemampuan pribadi mereka  sendiri, puitis hadiah. Itu sebabnya, menurut Walkerak kenapa ademik studi puisi, begitu juga studi seni praktis lainnya termasuk agama, dilakukan oleh para doctor filsafat.

  1. F. PENUTUP

Dari semua urain di atas, terkait pemikiran bias ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Al-Farabi dalam membahas keragaman agama-agama dan bagaimana posisi serta sejarahnya menggunakan cara mempertemukan antara Filsafat dan Agama yang dia representasikan dengan Muhammad dan Aristoteles. Karena Muhammad dan Aristoteles bertemu pada wilayah Rasio teoritis, maka al-Farabi menyimpulkan bahwa posisi keduanya sama. Dengan ini maka lawgiver –baik nabi atau filosof, baik agama atau ajaran moral- berposisi sama.
  2. Al-Farabi setuju dengan pembagian rasio Aristoteles pada rasio Teoritis dan rasio Praktis. Namun, pada hal ini al-Farabi menambahkan istilah ‘aplikasi rasio praktis’ dan membagi rasio teoritis menjadi dua, yakni ‘ilmu demonstratif’ dan ‘ilmu diskursif’.
  3. Al-farabi menyatakan bahwa semua agama diawali dari filsafat. Dalam arti agama asal mulanya berbentuk konsep Abstrak, kemudian karena supaya bias diakses oleh kalayak umum maka filosof-nabi atau lawgiver terpaksa menggunakan metode puisi dan retorika.

Kemudian dari urain di atas, terkait kajian Walker bias disimpulkan sebagai berikut:

  1. Dalam pengkajiannya tersebut Walker menggunakan metode pengkajian yang membatasi pada tema-tema pokok dan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang dipandu oleh tujuan utama khusus. Yang terakhir ini sebenarnya digunakan Walker untuk menggantikan kajian kritik sumber yang pada kajian ini tidak memmungkinkan.
  2. Walker melontarkan beberapa kritik atas pemikiran al-Farabi, diantaranya: (a) konsep lawgiver dan filusuf-nabi merupakan hal yang mustahil dilakukan. Oleh karena itu dia lebih memilih untuk memisahkan antar keduanya dengan posisi dan porsi yang tepat. (b) Menurutnya, kajian al-farabi masih banyak memendam misteri yang belum terselesaikan.

 

Published in: on Juni 26, 2010 at 3:45 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2010/06/26/agama-dan-rasio-praktis-perspektif-al-farabi-kajian-paul-e-walker/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: