Sisi “Religius” Pelacur

Resensi Buku

Agama Pelacur (Penulis: Prof. Dr. Nur Syam)

Oleh: Aly Masyhar

Salah satu profesi yang dinilai oleh masyarakat sebagai profesi yang nista dan kotor adalah pelacuran. Pelaku darinya dianggap tak bermoral dan sampah masyarakat. Masyarakat, pada umumnya, menganggap bahwa dalam diri pelacur tidak terlintas sedikitpun nilai positif, meskipun dari keberadaan mereka tidak sedikit masyarakat yang diuntungkan secara ekonomi, seperti tukang parkir, tukang becak, warung makan dan bahkan disinyalir telah memberikan masukan pada APBD kota atau daerah dimana mereka beroperasi.

Dengan sederetan stigma minor tersebut, pelacur menjadi terlempar dari hak sosial dan politik mereka. Akses sosial-politik mereka, begitu pula akses ekonomi, menjadi terbatas, sehingga menjadikan mereka tidak bisa mendapat hak sebagaimana masyarakat umumnya.

Konstruksi stigma minor terhadap pelacur ini sebenarnya terbentuk karena masyarakat dalam memandang pelacur hanya dari satu aspek saja, yakni aspek profesi mereka yang terejawantah secara lahiriyah. Padahal, pelacur juga memiliki aspek lainnya, yakni aspek kemanusian. Sebagai manusia, pelacur tidak hanya butuh untuk memenuhi kebutuhan fisik, namun juga kebutuhan sosial dan integratif.  Mereka juga membutuhkan kasih sayang, rasa pengertian dan bahkan rasa ketuhanan. Namun, karena aspek yang terakhir ini luput dari pandangan masyarakat, maka sisi kemanusiaan mereka terabaikan dan hanya mendapat hukuman moral seperti hujatan, cibiran, dan bahkan diskriminasi dan marjinalisasi baik dalam sosial, politik maupun ekonomi.

Pada titik yang luput dari pandangan masyarakat inilah buku Prof. Dr Nur Syam yang berjudul Agama Pelacur ini penting untuk dibaca. Buku ini, membidik aspek religiusitas para pelacur di kota Surabaya, yakni di Lokalisasi Dolly, Jarak, Moroseneng dan Jagir Wonokromo. Sebelum mengkaji aspek religiusitas para pelacur, buku ini terlebih dahulu membahas tentang gender, feminisme, budaya, dan seksualitas; seksualitas kaum pinggiran dan tradisi, ekonomi serta struktur sosial; dan baru kemudian menuju pada pembahasan yang menjadi fokus kajiannya, yakni relasi agama dan pelacur atau aspek religiusitas pelacur.

Dengan menggunakan pendekatan dramaturgi, sebuah pendekatan penelitian sosial yang membagi kehidupan menjadi ‘panggung depan’ dan ‘panggung belakang’ sebagaimana dalam teater, Nur Syam berusaha untuk menguak sisi terdalam para pelacur. Dengan kata lain, melalui pendekatan tersebut kehidupan pelacur dapat dibagi menjadi dua, yakni sisi ‘luar’ (panggung depan) yang nampak oleh mata bahwa mereka berprofesi sebagai penjaja seksualitas dan sisi ‘dalam’ (panggung belakang) yang hanya dapat diketahui dan dirasakan oleh mereka sendiri. Meskipun di luar para pelacur nampak selalu ceria –karena tuntutan profesi- namun di sisi batinya belum pasti begitu, bahkan sering merasa tersiksa, tertekan dan seterusnya. Meskipun di luar nampak acuh akan nilai-nilai religius, di sisi batin mereka ternyata tetap menyimpan harapan-harapan dan kerinduan-kerinduan terhadap belaian kasih Tuhannya. Mereka, meskipun dengan cara dan perwujudan yang berbeda-beda, tetap mempunyai atau menjaga rasa ketuhanan mereka, baik melalui do’a, keimanan, ritual dan lain-lain. Tidak sedikit pelacur yang malakukan shalat, puasa di bulan Ramadlan, dan kegiatan ritual-ritual lainnya ketika mempunyai waktu senggang dan tidak ada order atau tamu yang datang.

Terkait ritualitas para pelacur di atas, buku ini memuat cerita yang sangat menarik, diantaranya ialah sebagaimana yang diakui oleh Wiwit, salah satu pelacur yang beroperasi di lokasisasi Jarak. Ketika diwawancarai, dia mengaku tetap melakukan shalat meskipun baru saja menerima tamu. Dia juga mengaku bahwa dia dan teman seasramanya juga melakukan puasa dan ikut shalat Taraweh di Bulan Ramadalan, meskipun hal ini dilakukan dengan bolong-bolong. Katanya, “lumayanlah sebulan nabung ibadah, ketimbang enggak sama sekali” (hlm. 160).

Selain aspek religiusitas, buku ini juga menyatakan bahwa sebab-sebab yang menjerumuskan mereka ke dalam dunia hitam ini tidaklah semata-mata karena kepuasan biologis, namun, dari mayoritas pengakuan mereka, dikarenakan oleh himpitan ekonomi, ditipu atau dipaksa orang-orang yang tak bertanggungjawab. “Siapa sih yang mau menjadi seperti ini [pelacur] mas. Aku merasa menjadi seseorang yang kotor”, kata Lilis yang beroperasi di lokalisasi Dolly (hlm. 164).

Berdasarkan dengan temuan-temuannya, diakhir buku ini Nur Syam mengajak kepada masyarakat, agamawan, dan terutama para pengambil kebijakan untuk memandang kasus pelacur ini secara komprehensif. Kurang tepat jika hanya mencibir, mencemooh, dan menistakan mereka saja dengan tanpa melihat sisi kemanusiaan atau ‘panggung belakang’ mereka. Dan lagi, menurutnya, sikap seperti itu, apalagi menindaknya dengan kekerasan, tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan terjadi sebaliknya, yakni memperdalam dan memperlanggeng keterjerumusan mereka. Hal ini karena akses untuk berubah menjadi yang lebih baik bagi mereka telah tertutup oleh pandangan yang pincang tersebut.

Dengan milihat isi kajiannya di atas, maka buku ini sangat baik dibaca oleh semua kalangan, baik masyarakat umum, akademisi, aktivis perempuan, aktivis LSM, maupun para pengambil kebijakan, mengingat pada kenyataannya diskriminasi dan marginalisasi terhadap mereka hingga saat ini masih sangat terasa.

Published in: on Juli 30, 2011 at 6:36 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://alymasyhar.wordpress.com/2011/07/30/sisi-religius-pelacur/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: